YancenJam terbang, plus pengalaman dan dedikasi tinggi bekerja di berbagai media massa, yang cukup lama sudah tidak diragukan lagi dalam dirinya. Yang pasti semua itu sudah mendukung dan memenuhi syarat jika Yancen Piris kelak di percaya menjadi Anggota KPI 2016-2019. Latar belakang pendidikan dan organisasi juga mumpuni. Yancen Piris juga lulusan Departemen Politik FISIP Universitas Indonesia. Pernah terlibat di berbagai organisasi baik semasa kuliah maupun setelah bekerja. Pengalaman bekerja di Radio Kabar 68 RH dan RPK Pelitakasih menjadi modal dalam meniti karir di KPI.

“Saya kira Yancen Piris tepat dan punya kapasitas dipilih menjadi Anggota Komisi Penyiaran Indonesia. Kita sangat mendukung agar Pansel mempertimbangkannya. Modal wartawan di beberapa Radio dan kerap menjadi trainer penyiaran adalah garansi untuknya. Pewarna Indonesia mendukung Yancen Piris,” ujar Yusuf Mujiono Ketua Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia.

Menurut Pimpinan Umum Majalah GAHARU ini, Pansel diharapkan juga mempertimbangkan keterwakilan dari kelompok masyarakat. “KPI itu kan bertugas untuk mengadakan pengawasan akan siaran di Indonesia, karena itu musti ada keterwakilan dari semua golongan masyarakat demi menjamin penyiaran yang terjaga sesuai dengan budaya Indonesia. Sekali lagi Yancen Piris bisa dipertimbangkan sebagai representasi perwakilan kalangan Kristen,” Yusuf Mujiono menegaskan.

Mengenal Yancen Piris, apa dan mengapa ikut seleksi calon anggota KPI Indonesia.

Ngapain juga repot jadi komisioner KPI?,” tanya seorang kawan sepemahaman radio saat saya hendak mengajukan lamaran menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) periode 2016 – 2019. Saya hanya tersenyum dan berkata,

302239_10150350906629340_39969758_nSepertinya ini adalah saatnya saya berbakti kepada publik yang lebih luas lagi,” Ya, selama ini saya berkecimpung dalam dunia jurnalistik, khususnya melalui media radio. Sejak awal, saya selalu berusaha menjaga integritas jurnalisme dan mengembangkan pengetahuan serta kemampuan pribadi saya seputar lembaga penyiaran, khususnya radio. Mengabarkan apa yang mesti dikabarkan yang menjadi hak publik yang saya layani. Tentunya semua kabar disampaikan (dikemas) sesuai aturan/etik yang berlaku. Ya, semua itu saya lakukan dengan semangat melayani publik yang ‘haus’ akan informasi yang mendidik dan menyehatkan; yang membuka cakrawala berpikir, bukannya mempersempit; yang menghargai keberagaman, bukan malah menisbikan kekayaan bangsa Indonesia tersebut.

Selain di Jakarta dan sekitarnya, saya pun berkesempatan memperluas cakrawala ke-penyiaran saya ke daerah-daerah di Indonesia, bahkan ke luar negeri (demi studi banding). Semakin luas wawasan saya, semakin saya prihatin mengenai kondisi lembaga penyiaran nasional. Khususnya radio, sebuah medium yang menurut saya sangat powerful bila dikemas dengan baik dan benar, keberadaannya seolah dipandang sebelah mata di Tanah Air ini. Padahal audiens radio itu, saya yakin, lebih besar dan luas daripada medium lainnya. Keyakinan tersebut saya dapatkan dari hasil sharing dengan insan radio-radio di daerah. Namun hingga kini kita hanya ‘menyerah’ pada hasil survey lembaga luar negeri, yang menyebut audiens radio menurun. Padahal di luar sana, sudah menjadi rahasia umum, lembaga survey tersebut kerap dipertanyakan kredibilitasnya.

Mengapa kita tidak mendorong adanya survey yang independen dari dalam negeri? Mengapa Komisi Penyiaran Indonesia tidak memasukkan unsur riset dan pengembangan lembaga penyiaran ke dalam regulasi? Mengapa mesti ada? Karena unsur litbang itu perlu sebagai dasar sahih sebuah arahan, pedoman, maupun tindakan yang dijalankan. Selain itu, dengan adanya unsur litbang yang kuat, pemerintah dalam hal ini KPI mampu menjaga amanah undang-undang melindungi hak publik/masyarakat secara lebih merata, selaku pemilik frekuensi. Hal tersebut juga dapat menghilangkan fait-a-comply dari pihak-pihak yang hanya mementingkan kantong mereka belaka terkait keberadaan sebuah lembaga penyiaran.

Pentingnya pemerintah memaksimalkan keberadaan lembaga penyiaran, khususnya lembaga penyiaran publik, merupakan semangat yang saya bakal bawa saat menjadi anggota KPI 2016 – 2019. Dengan pengetahuan dan kemampuan yang saya miliki selama ini, saya yakin mampu berkontribusi terhadap hal tersebut, khususnya buat lembaga penyiaran radio. Dengan semangat yang diamanahkan oleh UU Penyiaran 32 tahun 2002, optimalisasi lembaga penyiaran dapat dimulai dengan penerapan diversity of content dan diversity of ownership. Mengapa? Karena dengan adanya keberagaman isi, maka insan lembaga penyiaran dituntut lebih kreatif dan inovatif. Selain itu, masyarakat pun sebagai salah satu stakeholder yang utama, dapat memiliki beragam pilihan lembaga penyiaran sesuai dengan kebutuhan. Sementara dengan adanya keberagaman kepemilikan, maka keberagaman ide pun menjadi sebuah keniscayaan. Khusus terkait keberagaman kepemilikan, insan radio di daerah bakal mendapat kesempatan yang lebih luas untuk memberdayakan sumber daya siaran lokal mereka.

Selanjutnya terkait sumber daya siaran lokal, perlu dikedepankan penguatan insan radio dan televisi di daerah, termasuk para komisioner KPI dan KPID. Materi penguatan sudah barang tentu adalah kapasitas mereka terkait dengan sumber daya siaran (apa itu media audio dan audio visual, serta apa saja kekuatan dan kelemahan keduanya).

Satu lagi, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun wajib peka jaman. Salah satunya adalah bagaimana komisioner mendorong adaptasi dunia maya (online) dan mobile apps. ke dalam lembaga penyiaran yang ada di Indonesia. Juga pemberdayaan social media dan mobile apps. untuk meningkatkan kinerja KPI (termasuk optimalisasi e-KPI) Salah satu yang ingin saya bagikan adalah adanya aplikasi mobile untuk mengakomodasi peran masyarakat/publik dalam hal pengawasan. Ini penting apalagi fakta bahwa masyarakat Indonesia termasuk kelompok pengguna smartphone yang besar di dunia. Juga adanya social media yang komunikatif dan informatif demi tersebarnya visi dan misi KPI secara lebih luas di dunia maya. Tentunya hal tersebut mesti didukung dengan persebaran jaringan 3G/4G di Indonesia.

Komunitas social media di Indonesia? Jangan ditanya… Jejaring saya dalam komunitas kreatif online (misalnya para pengembang aplikasi/developers) yang kuat selama ini, sekiranya mampu menjadi bekal saya bila menjadi anggota KPI periode 2016 – 2019.

Semoga menjadi berkah buat publik Indonesia yang mengidam-idamkan lembaga penyiaran yang berkualitas…

 

Komentar Facebook
http://warningtime.com/wp-content/uploads/2016/05/Yancen.jpghttp://warningtime.com/wp-content/uploads/2016/05/Yancen-150x150.jpgadminwarningtimeProfilJam terbang, plus pengalaman dan dedikasi tinggi bekerja di berbagai media massa, yang cukup lama sudah tidak diragukan lagi dalam dirinya. Yang pasti semua itu sudah mendukung dan memenuhi syarat jika Yancen Piris kelak di percaya menjadi Anggota KPI 2016-2019. Latar belakang pendidikan dan organisasi juga mumpuni. Yancen Piris...Mengungkap Kebenaran