{"id":2280,"date":"2017-01-29T13:10:08","date_gmt":"2017-01-29T13:10:08","guid":{"rendered":"http:\/\/warningtime.com\/?p=2280"},"modified":"2017-01-29T13:13:14","modified_gmt":"2017-01-29T13:13:14","slug":"ibunda-sahat-sinaga-berpulang-selamat-jalan-mamaku","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/2017\/01\/29\/ibunda-sahat-sinaga-berpulang-selamat-jalan-mamaku\/","title":{"rendered":"Ibunda Sahat Sinaga Berpulang: \u201cSELAMAT JALAN MAMAKU\u201d"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-full wp-image-2283\" src=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/11933445_10207865683981138_7279575217855907191_n.jpg\" alt=\"11933445_10207865683981138_7279575217855907191_n\" width=\"280\" height=\"280\" srcset=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/11933445_10207865683981138_7279575217855907191_n.jpg 280w, http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/11933445_10207865683981138_7279575217855907191_n-150x150.jpg 150w, http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/11933445_10207865683981138_7279575217855907191_n-45x45.jpg 45w\" sizes=\"auto, (max-width: 280px) 100vw, 280px\" \/>&#8220;Selamat jalan Mamaku.&#8221; Demikianlah status di Facebook Sahat HMT Sinaga, mantan Ketua Umum<\/p>\n<p>Gerakan Angkatan Muda Kristen (GAMKI) dan Sekretaris Jenderal Partai Damai Sejahtera (PDS)<\/p>\n<p>menjelaskan atas wafatnya ibunda B boru Sirait (Op Tasya Boru). Dipanggil Bapa di Sorga, dini hari,<\/p>\n<p>pukul 02.42 wib. Kamis, 26 Januari 2017 pada usia 78 tahun di Rumah Sakit Cikini, Jakarta Pusat. Tak<\/p>\n<p>berapa lama jenasah ibunda senior GMKI ini kemudian dibawa pulang dan disemayamakan di<\/p>\n<p>rumahnya beralamat di Perumahan Kemang Pratama 2, Jalan Kemang Amarilis 2, Kota Bekasi.<\/p>\n<p>Tampak Sahat masygul. Tak berhenti meneteskan air mata atas kepergian ibundanya. Amat<\/p>\n<p>manusiawi berduka jika orangtua atau orang yang kita kasihi meninggal. Tak kepalang, kematian<\/p>\n<p>orangtua mungkin merupakan salah satu hal yang paling memilukan, sebab semua kenangan masa<\/p>\n<p>lalu bersamanya mengelayut, sehingga rasa sedih yang amat sangat. \u201cMama orang yang sangat<\/p>\n<p>berharga, dia yang melahirkan, merawat dan mendidik kita sampai tumbuh dewasa. Dan sampai kita<\/p>\n<p>menjadi orang yang sukses, bisa menggapai impian.\u201d<\/p>\n<p>Begitu sampai di rumah duka, kebaktian penghiburan pertama langsung digelar pimpinan GKPI<\/p>\n<p>Perumnas II Bekasi, pendeta, majelis dan beberapa jemaat. Juga tampak yang sudah datang melayat<\/p>\n<p>daripihak keluarga terdekat, baik dari keluarga Sinaga dan keluarga Sirait. Terlihat juga para tetangga<\/p>\n<p>yang turut menyambut pelayat, seperti Saor Siagian, pengacara.<\/p>\n<p>Almarhumah meninggalkan 8 keturunan. Dua putra, dua menantu, dan empat cucu. Anak pertama<\/p>\n<p>Sahat, anak kedua Dr Budiman Sinaga, dosen di Universitas Nommensen, Medan. Rencananya besok<\/p>\n<p>akan digelar acara adat Batak, acara saurmatua untuk almarhumah yang dikategorikan kematian<\/p>\n<p>yang hampir purna dalam budaya Batak. Oleh karena almarhum meninggal, anak-anak sudah<\/p>\n<p>menikah dan memberi cucu. Setelah prosesi adat Batak, jasad almarhumah akan dikebumikan,<\/p>\n<p>Sabtu, 28 Januari 2017, di sebelah pusara suaminya, (alm) Penatua S A Sinaga (Op Tasya Doli) di TPU<\/p>\n<p>Pondok Kelapa, Jakarta.<\/p>\n<p>Saat kebaktian, pendeta dalam renungannya mengajak keluarga untuk senantiaasa bertahwakal<\/p>\n<p>menghadapi kedukaan ini. \u201cSelamat ini almarhumah, ibu yang kita kasihi ini sudah sakit. Walau jelas,<\/p>\n<p>kita secara manusia kita belum rela kepergiannya. Tetapi, yang pasti Tuhan lebih tahu yang terbaik<\/p>\n<p>untuk kita.\u201d Dan pihak gereja pun juga memberi kesaksian, menggenal benar sosok almarhumah,<\/p>\n<p>sebagai sosok orangtua yang baik.<\/p>\n<p><strong>Orangtua teladan<\/strong><\/p>\n<p>Keteladanannya salah satu adalah bisa mendidik kedua anaknya menjadi orang yang berarti untuk<\/p>\n<p>orang banyak. Sahat dan Budiman keduanya dikenal sebagai pigur yang telah berbuat bagi<\/p>\n<p>kemaslahatan banyak orang. Sebagai aktivis Kristen dan pendidik.<\/p>\n<p>Hal senada ditambahkan Tobing, salah satu majelis mengatakan, \u201cBetapa orangtua ini adalah<\/p>\n<p>orangtua yang telah menunjukkan keteladan. Tak pernah mengkarapkan anaknya kaya tetapi<\/p>\n<p>berguna untuk orang lain. Terakhir saat pihak gereja datang ke rumah sakit tak ada tanda-tanda<\/p>\n<p>beliau sudah akan dipanggil. Tentu kita bersedih dimuliakan Tuhan ibunda Penatua Sahat Sinaga,\u201d<\/p>\n<p>ujar majelis gereja senior di GKPI Perumnas II, Bekasi ini.<\/p>\n<p>Sahat sendiri selain sebagai penatua juga salah seorang anggota majelis pusat GKPI, gereja yang<\/p>\n<p>berkantor sinode di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Sahat menjelaskan, sebelumnya ibundanya<\/p>\n<p>sudah sakit, cuci darah, beberapa tahun ini.<\/p>\n<p>Beberapa tahun ini, tradisi dari keluarga Sahat selalu menggelar kebaktian syukur untuk ibundanya<\/p>\n<p>setiap tanggal 28 Desember, atas tanggal dan bulan kelahiran Op Tasya Boru. Dan, 28 Desember<\/p>\n<p>2016 yang lalu merupakan kebaktian syukur terakhir. Hanya sehari setelah ulangtahun itu,<\/p>\n<p>almarhumah langsung sakit dan segera dibawa ke rumah sakit. Sahat sendiri dan keluarga juga mesti<\/p>\n<p>merelakan kebaktian akhir tahun di Rumah Sakit Cikini. Sebelum menutup mata, selama 28 hari<\/p>\n<p>perjuangan almarhumah bergulat melawan penyakit, hingga menghembuskan nafas terakhir.<\/p>\n<p>\u201cTuhan mengajariku, tentang kehidupan penuh kedamaian dan kesabaran, terus berpengharapan<\/p>\n<p>kepada Tuhan yang empunya otoritas kuasa atas manusia dan mahkluk-mahkluk lain dalam alam<\/p>\n<p>semesta ini,\u201d tutur Sahat.<\/p>\n<p>Dia sendiri walau lahir di Cimahi, Bandung memahami benar filosofi Batak \u201cNatua-tua mi do Debata<\/p>\n<p>Natarida.\u201d Artinya, orangtuamulah representasi Tuhan yang tampak. Secara kasat mata tak mungkin<\/p>\n<p>bisa melihat Tuhan, maka untuk melihatnya menghormati orangtua. Filosofi itu dihidupinya, bahwa<\/p>\n<p>orangtua harus dihormati dan diberikan pelayanan yang terbaik di masa tua hingga hayatnya.<\/p>\n<p>Di hari tua ibundanya, Sahat mengambil ahli tanggung jawab sebagai anak pertama, melayani,<\/p>\n<p>merawat ibunya yang tinggal bersama mereka serumah. Sesekali adiknya Budiman dan istrinya juga<\/p>\n<p>datang dari Medan untuk menjeguk ibu mereka.<\/p>\n<p>Penghormatan pada orangtua pun juga ditunjukkan istri Sahat, Rita boru Sitorus (Kabag Hubungan<\/p>\n<p>Antar Lembaga Dewan Pers) juga sosok parumaen atau menantua yang hebat. Benar-benar<\/p>\n<p>memperlakukan mertuanya sebagai orangtuanya. Selama almarhumah sakit, tak pernah menjadi<\/p>\n<p>masalah dalam keluarga ini, mereka memberi yang terbaik merawat orangtua hingga hayatnya.<\/p>\n<p>Sahat sendiri selalu setia, bahkan mengorbankan pekerjaan, menggutamakan ibundanya, demi<\/p>\n<p>untuk mendampingi ke rumah sakit. Kesedihan Sahat tentu bukan kepalangan. Jelas bukan karena<\/p>\n<p>penyesalan belum memberikan yang terbaik. Kesedihannya hanya mengingat kebaikan ibundanya<\/p>\n<p>yang menunjukkan keteladanan pada mereka, keturunannya.<\/p>\n<p>Akhirnya, kami, segenap anggota Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) mengucapkan<\/p>\n<p>turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya untuk ibunda abang kami Sahat Sinaga, yang juga<\/p>\n<p>penasihat PEWARNA yang telah berkalang tanah. Kematian orang yang kita kasihi membawa duka<\/p>\n<p>yang dalam. Namun, sebagaimana Paulus mengatakan, hidup bagiku Kristus mati keuntungan.<\/p>\n<p><em>Selamat jalan inang.<\/em> (Hojot Marluga dan Pewarna Indonesia)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Selamat jalan Mamaku.&#8221; Demikianlah status di Facebook Sahat HMT Sinaga, mantan Ketua Umum Gerakan Angkatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2283,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-2280","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam","has_thumb"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2280","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2280"}],"version-history":[{"count":2,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2280\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2284,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2280\/revisions\/2284"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2283"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2280"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2280"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2280"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}