{"id":6997,"date":"2022-07-08T13:11:16","date_gmt":"2022-07-08T13:11:16","guid":{"rendered":"http:\/\/warningtime.com\/?p=6997"},"modified":"2023-11-17T13:55:44","modified_gmt":"2023-11-17T13:55:44","slug":"bersama-yki-dan-forum-senior-gmki-pewarna-indonesia-menyelenggarakan-bedah-buku-hancur-bangun-rumah-ibadah","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/2022\/07\/08\/bersama-yki-dan-forum-senior-gmki-pewarna-indonesia-menyelenggarakan-bedah-buku-hancur-bangun-rumah-ibadah\/","title":{"rendered":"Bersama YKI dan Forum Senior GMKI, Pewarna Indonesia Menyelenggarakan Bedah Buku \u201cHancur Bangun Rumah Ibadah\u201d"},"content":{"rendered":"<p>, WarningTime.com \u2013 Pewarna (Persatuan Wartawan Nasrani) Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Komunikasi Indonesia (YKI) dan Forum Senior GMKI menggelar acara bedah buku berjudul Hancur Bangun Rumah Ibadah, Jumat 8 Juli 2022 bertempat di Gedung YKI Jalan Matraman 10, Jakarta Timur. Acara yang diawali dengan ibadah tersebut pada sesi diskusi bedah buku menampilkan para pembedah antara lain\u00a0 Romo Benny Susetyo (Anggota Dewan Penasihat BPIP), Pdt. Dr. Ronny Mandang (Ketua Umum PGLLI), Pdt. Henrek Lokra (PGI)\u00a0 dan Tumpak H Simanjuntak (Staf Ahli Kementerian Dalam Negeri).<\/p>\n<p>Tampil pertama Romo Benny Susetyo menngatakan melalui repleksi buku ini maka kita melihat bahwa\u00a0 proses kebangsaan kita belum selesai. Persoalan yang perlu diselesaikan intinya kita harus bangun gereja yang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Dengan membangun nilai-nilai cinta kasih dan gereja sebagai terang. Gereja bukan bicara fisiknya tapi bicara diri kita sendiri. Jika selama ini masih \u00a0ada perusakan gereja yang salah kan pejabat daerah seperti \u00a0bupati dan \u00a0walikota yang tidak menegakkan UU dan UUD 1945.<\/p>\n<p>\u201cTantangannya adalah nilai gereja yang membawa kabar gembira untuk orang lain. Buku ini membangun kasadaran kristiani \u00a0untuk mengaktulisasi Pancasila. Ini sudah lama ditumbuhkan dalam masyarakat kita. Misalnya \u00a0di Ambon dengan adanya Pela Gandong. Sayangnya lokal wisdom ini hancur karena kerusuhan Ambon. Yang salah itu \u00a0adanya framing dominasi mayoritas ke minoritas. Jangan seolah kita umat tertindas, saat ini kita harus terus membangun peradaban cinta kasih \u00a0dan memegang teguh \u00a0Pancasila,\u201d ujar rohaniawan Katolik ini.<\/p>\n<p>Menurutnya,\u00a0 BPIP telah membuat satu gerakan membumikan Pancasila. Selama \u00a0ini bangsa ini \u00a0vakum \u00a0sejak runtuhnya \u00a0Orde Baru, yang kerap muncul kan ideologi radikalisme. Ketika Inggris dan Amerika sudah bicara kualitas bukan agama lagi \u00a0kita malah sebaliknya. Kita ini miskin gagasan, makanya kita butuh politik gagasan. Problem besar kita (Indonesia) \u00a0adalah pembenahan karakter bangsa belum tuntas, maka \u00a0Pancasila harus digunakan. Seperti telah dilakoni Romo Mangun membangun gereja diaspora yakni peduli. Yang dibangun dari komunitas daerah.<\/p>\n<p>\u201cSaya kira umat Kristen \u00a0jangan dalam setiap negosiasi \u00a0lantas dikit-dikit menyerah, kita perlu melakukan pendekatan komunikasi budaya. Kasus Sang Timur kurang apa Gus Dur tapi penolakan terus terjadi. Karena itu \u00a0orang Kristen harus visioner. Caranya jangan frontal selalu kedepankan pendekatan persuasif. Menurut saya bijaklah \u00a0dan kebijaksanaan takut akan Tuhan. Proses jadi bangsa itu butuh waktu, kita punya kepekaan perlu \u00a0kesadaran kultural kalau ingin sejajar dengan bangsa lain,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Sementara Tumpak H. Simanjuntak membeberkan bahwa \u00a0urusan pemerintahan dikalafikasikan seperti absolut dan konperen. Pertama \u00a0urusan absulut yang terkait dengan pertahanan, moneter fiskal, agama dll \u00a0\u00a0tidak dibagi ke pemerintah daerah. Sementara \u00a0 berbeda urusan konperen. \u00a0Paling tidak enam standar pelayanan dasar pemerintah. Agama ini non urusan degalatif. Karena itu harus mempertimbangkan kesamaan, makanya ada Kesbangpol, Catatan Cipil yang kita sebut local different.<\/p>\n<p>\u201cYang susah penerapan di lapangan. \u00a0UU menjamin kebebasan umat beragama bahkan dijamin dalam konstitusi dasar yakni \u00a0UUD 1945. Faktanya masih terjadi disparitas regional, keberagaman dan lainnya.\u00a0 \u00a0Makanya Tumpak Simanjuntak tak mugkin gubernur di Jateng sangat beda di London \u00a0bisa dijabat orang Mesir,\u201d tutur Staf Ahli Kementerian Dalam Negeri ini, hadir mewakili Mendagri Tito Karnavian yang berhalangan karena kunjungan kerja ke Papua. Ia menambahkan bahwa cipta karsa masayarakat \u00a0di Inggris itu udah beda, karena memang tidak \u00a0urusan agama lagi.\u00a0 Memang \u00a0kita \u00a0harus suarakan karena ini tidak hanya kepentingan kristiani \u00a0tetapi untuk semua agama, karena negara menjaminnya.<\/p>\n<p>Diakuinya, dinamika kita bernegara ini seolah-olah \u00a0tidak adil. Kita harus menyesuakan diri dengan kelompok intoleran tersebut.\u00a0 Bupati saja sekarang takut kepala desa karena kuatir \u00a0jabatan dua periode. Masalah bangsa kita ini complecated. Menarik Buku ini membahas jaminan UU dan UUD. Indonesia\u00a0 ada 6 agama besar. \u00a0Otokritik di buku ini bagus, ada kritik ke dalam gereja sendiri yang\u00a0 yang kurang dalam relasi lingkungan, gereja berdekatan, tidak bisa bergaul dengan masyarakat sekitar. Karena itu,\u00a0 kita harus bisa menyusaikan diri.<\/p>\n<p>Menarik Pdt. Hendrik Lokra justru mengawali diskusi dengan mempertanyakan bagaimana konstruksi UU dengan Qanun, Aceh. Masalah yang \u00a0kita hadapi di Aceh Singkil, Qanun\u00a0seolah \u00a0lebih berpengaruh dengan peraturan bersama menteri. Pertanyaan bagaimana konstruksi hukum bisa terjadi?<\/p>\n<p>\u201cSayang Pak Dr. Daniel Yusmic Pancastaki Foekh, SH, MH sudah pulang. Kita bisa tanya bagaimana peluang kalau aturan\u00a0 ini di Judicial Review di MK, bisa kita dorong lewat adik-adik GMKI atau GAMKI,\u201d ungkapnya sembari masalah seperti terjadi juga di Sumbar.<\/p>\n<p>Aturan PBM (Peraturan Bersama Menteri) \u00a0ini persyaratan pembangunan sarana prasana ibadah.\u00a0 Tetapi tugas FKUB banyak ke pembinaan karena itu banyak kesalahan terjadi karean rekomendasi. Mungkin FKUB Jakarta masih sedikit \u00a0bagus tetapi bagaimana di daerah-daerah selama ini rekomendasi tidak ada atau tidak dianggap.<\/p>\n<p>\u201cSebagai orang Kristen, kita harus hidup yang menghidupkan. \u00a0Itu panggilan Kristen. Kita harus bisa mengelola dengan baik. Dari banyak kasus \u00a0di lapangan ditemukan tidak banyak komunikasi dengan masyarakar sekitar pembangunan rumah ibadha. \u00a0Padahal komunikasi itu modal yang kita buat kita dan itu \u00a0Pancasilais,\u201d cetusnya.<\/p>\n<p>Hendrik Lokra membeberkan fakta bahwa di Gujung Kidul \u00a0ada 2015 ijin rumah diberikan \u00a0dan Sleman sebanyak 2027 rumah ibadah dapat ijin. Yang melakukan \u00a0dan memperjuangkan itu Ormas Aliansi Binneka Tunggal Ika. Kasus pembangun gereja di Bantul dengan komunikasi yang baik dikasih ijin demikian juga GKI Yasmin Bogor. Pertanyaannya apa kita sudah mengelola modal sosial kita yakni pendekatan komunikasi.<\/p>\n<p>Tampil pembicara terakhir Pdt. Ronny Mandang menegaskan bahwa pemikaran yang pertama adalah pergumulan\u00a0 masyarakat Kristen di tengah masyarakat inteloren. Ia menyanggah pendapat Romo Benny bahwa dalam sejarah KKR \u00a0bukan melahirkan radikalisme tetapi justru berdampak mendirikan banyak rumah ibadah\u00a0 dan sekolah Kristen.<\/p>\n<p>\u201cKita sekarang masuk Era Revolusi Industri 4.0, metafisika atau gereja virtual. Suatu waktu \u00a0ke depan bukan tidak mungkin gereja \u00a0fisik sudah tidak diperlukan lagi, diganti persekutuan \u00a0melalui virtual tetapi apa yang terjadi sekarang memang seperti dalam Buku ini,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Ia membuka fakta kejadian pendeta Yeremia Tolikara dan Sulteng,\u00a0 dimana Aparat TNI\/Polri yang melakukan penganiayaan selama tiga jam. \u00a0Apakah ini\u00a0 persoalan politik, \u00a0Ronny mengatakan tidak demikian.<\/p>\n<p>\u201cSaya dan Pdt Yusuf Roni pernah bangun rumah ibadah di Matraman dan Taman Alfa dan sudah disetujui warga sekitar tetapi justru warga luar yang mendemo menolak,\u201d tukasnya lagi.<\/p>\n<p>Membangun rumah ibadah di masyarakawt toleran tidak \u00a0masalah, tapi membangun di masyarakat inteloran maka yang terjadi seperti dijelaskan dalam buku ini. Meski demikian, ia juga \u00a0mengingatkan jangan gereja jadi predetor untuk \u00a0gereja lain.<\/p>\n<p>Tidak hanya itu Ronny mengkritik tajam moderasi agama yang digaungkan oleh Kementerian Agama. Menurutnya bagaimana mungkin\u00a0 selaras kampanye moderasi agama sementara \u00a0logo Kemenag sendiri \u00a0hanya simbol satu agama. \u201cSaya pernah menantang para menteri \u00a0agama, apa mau merubah logo Kemenag sehingga lembaga itu merasa dimiliki semua agama di Indonesia, faktanya sampai dipimpin Menag sekarang tidak ada.\u201d<\/p>\n<p>Rumah ibadah boleh dibangun dengan gaya arsitektur apa saja. Setiap gedung yang dibangun harus mendekati masyarakat sekitar.\u00a0 Persoalan bukan di rumah ibadah tapi masyarakat intoleren. Selama masih ada masyarakat intolerans maka gereja yang \u00a0sudah punya ijin juga bisa ditolak dan dihancurkan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>, WarningTime.com \u2013 Pewarna (Persatuan Wartawan Nasrani) Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Komunikasi Indonesia (YKI) dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-6997","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-fokus","has_no_thumb"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6997","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6997"}],"version-history":[{"count":2,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6997\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7460,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6997\/revisions\/7460"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6997"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6997"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6997"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}