{"id":7431,"date":"2023-10-11T12:55:26","date_gmt":"2023-10-11T12:55:26","guid":{"rendered":"http:\/\/warningtime.com\/?p=7431"},"modified":"2023-10-11T12:55:26","modified_gmt":"2023-10-11T12:55:26","slug":"mencari-pemimpin-pancasilais-sejati-ziarah-dan-renungan-kepemimpinan-nasional-2024-di-makam-bung-hatta","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/2023\/10\/11\/mencari-pemimpin-pancasilais-sejati-ziarah-dan-renungan-kepemimpinan-nasional-2024-di-makam-bung-hatta\/","title":{"rendered":"Mencari Pemimpin Pancasilais Sejati : Ziarah \u00a0dan Renungan Kepemimpinan Nasional 2024 di Makam Bung Hatta"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Screenshot_20231011_195402_Gallery.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-7432\" src=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Screenshot_20231011_195402_Gallery-300x217.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"217\" \/><\/a><\/p>\n<p>Jakarta, Warningtime.com &#8211; Forum Kenegarawanan kembali menggelar kegiatan kepedulian bangsa dan negara. Kali ini menggelar acara Ziarah dan Renungan Kepeminpinan Nasional 2024 di Makam Bung Hatta di TPU Tanah Kusir, Jakarta, Rabu (11\/10\/2023) sore.<\/p>\n<p>Acara dirangkai dalam dua tahap yakni pertama ziarah dan tabur bunga di makam Bung Hatta. Dilanjutkan \u00a0Renungan Kepemimpinan Nasional 2024 \u00a0berlamgsung di beranda kompleks makam.<\/p>\n<p>Tabur bunga diawali dengan Prof. Meutia Hatta (putri sulung Bung Hatta) didamping Eko Sriyanto Galgendu selaku Koordinator Forum Kebangsaan. Selanjutnya Jend Purn Tyas Sudarto (mantan KSAD), Komjen Dharma Parengkun, Prof. Yudhie Haryono dan seluruh rombongan.<\/p>\n<p>Sebelumnya Eko Sriyanto Galgendu mewakili Forum Kenegarawan dalam sambutannya mengatakan\u00a0 bahwa kita menyelenggarakan acara Ziarah \u00a0dan Renungan \u00a0Kepemimpan Nasional 2024 \u00a0di Makam Proklamator Bung Karno. Terimakasih atas kehadiran Prof Meutia dari keluarga dan juga seluruh yang hadir.<\/p>\n<p>\u201cZiarah ke Bung Hatta \u00a0ada makna kejujuran dan keiklasan \u00a0yang kita petik bersama. \u00a0Beliau meyakinkan dan memberi makna \u00a0tanggung jawab \u00a0berbangsa dan bernegara adalah segalanya. Apa yang bisa kita perbuat kepada bangsa, meneladani beliau,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Bung Karno dan Bung Hatta, berdua \u00a0selalu seia sekata. Sampai kapan pun bangsa kita nama mereka tetap terpatri di hati dan dalam jiwa anak bangsa. \u00a0Sebagai penghormatan akan Bung Hatta, \u00a0Eko melakukan sembah karna (perhomatan pemimpin ke pemimpin pendahulu, sembah jiwa (penyatuan \u00a0jiwa) \u00a0dan hormat prajurit.<\/p>\n<p>\u201cBagi kami Bung Hatta adalah pemimpin \u00a0bangsa sebagai raja. \u00a0Kedatangan \u00a0kita \u00a0ziarah\u00a0 melecut semangat, \u00a0kewibawaan \u00a0dan kehormatan. Itu modal untuk menyelamatkan bangsa,\u201d tukasnya. Kehadiran Prof. Meutia Hatta kata Eko menambah energi dan semangat di Forum Kebangsaan.<\/p>\n<p>Mewakili keluarga Prof. Meutia Hatta menyempaikan terimakasih atas kehadiran tokoh-tokoh; Eko Sriyanto Galgendu, Prof. Yudhie Haryono, Jenderal Purn Tyas Sudarto, Komjen Dharma Parengkun dan yang lainnya. \u00a0Keluarga Bung Hatta senang sekali \u00a0atas gagasan Forum Kenegarawan untuk mewujudkan acara ini.<\/p>\n<p>\u201cKita memerlukan pemikirin cemerlang untuk \u00a0bangsa dan negara. Apalagi \u00a0sebagai negarawan ketika dapat anugerah menjadi pemimpin bangsa. Tidak semua \u00a0punya \u00a0kesempatan, walau ada darah pemimpin. Kesempatan itu diberikan Tuhan. Karena itu, kesempatan memimpin harus dilakukan dengan baik sebab Kalau tidak baik \u00a0pertanggungjawaban nanti dihadapan\u00a0 Tuhan,\u201d ujarnya mengingatkan.<\/p>\n<p>Bung Hatta mencontohkan seorang pemimpin \u00a0adalah orang yang mencintai tanah air dan negaranya. Dengan adanya forum kenegarawanan ini \u00a0Meutia \u00a0berharap kembali kita bisa berpikir sebagai bangsa Indonesia \u00a0menjadi tokoh-tokoh, ilmuan, tentara dan proesi lainnya, yang tampil memikirkan \u00a0\u00a0bagaimana \u00a0bangsa Indonesia maju.<\/p>\n<p>\u201cSeperti Kata Bung Hatta bahwa kita harus menjadi \u00a0tuan di negeri sendiri. Seorang pemimpin harus rela berkorban. Kita memasuki tahun \u00a0politik 2024 harapan kita bisa menghadirkan \u00a0pemimpin\u00a0 bukan pejabat tok, \u00a0yang berpegang kepada \u00a0UUD 1945 yang benar,\u201d tegas istri Prof. Edi Swasono yang juga anggota Forum Kenegarawan.<\/p>\n<p>Pada kesempatan itu, Meutia menceritakan jasa \u00a0Presidan \u00a0Soeharto yang berkenan mendesain sendiri \u00a0makam Bung Hatta. \u201cPak Harto yang membangun makam ini dan Bung Karno yang menikahkan \u00a0ayah,\u201d ujarnya mengenang.<\/p>\n<p>Kemudian acara berpindah ke beranda kompleks makam, untuk menggelar Renungan Kepemimpinan Nasional 2024 yang menampilka\u00a0 Jend. Purn Tyasno Sudarto, Dr. Sayuti dan Komjen Dharma Parengkun.<\/p>\n<p>Mengawali Dr. Sayuti mengutip \u00a0pandangan para sejarawan yang mengatakan bahwa hubungan energi Soekarno-Hatta yang \u00a0membuat \u00a0Indonesia ada. Keterikatan proklamator ini sebuah hubungan yang luar biasa. Yang satu dengan pidato mengelegar dan gelora dan yang satunya tampil kalem dan rendah hati. Mereka saling melengkapi.<\/p>\n<p>\u201cKalau hari ini ada \u00a0pemimpin orang-orang seperti Bung Karno dan Bung \u00a0Hatta maka \u00a0kita bisa mempersiapkan Indonesia\u00a0 terus ada maju. Kita yang ikut ziarah hari ini adalah penjaga-penjaga Indonesia. Jika ada yang bengkok, kita juga harus tampil meluruskan,\u201d bebernya.<\/p>\n<p>Sementara Komjen Dharma Parengkun memulai dengan mengingatkan harapan dan kekuatiran Bung \u00a0Hatta. Kekuatiran Bung Hatta bukan tanpa latarbelakang,\u00a0 Bung Hatta sudah tahu apa yang terjadi ke depan, seperti saat ini kita alama. Spirit Bung \u00a0Hatta meski tidak terlihat tetap ada.<\/p>\n<p>Apa yang disampaikan Ibu Mutia tadi bahwa seorang pemimpin buka \u00a0mengejar kekuasaan tetapi \u00a0seorang \u00a0pemimpin harus rela berkorban untuk mendudukkan rakyat jadi tuan di negeri ini. Tidak malah mengorbankan rakyatnya.<\/p>\n<p>\u201cSaya merasak sejak dulu, bahwa rakyat dikorbankan. Sejak kecil kita diadu, dengan angka. Itu membuat sistem ini berubah sistem korup, permainan juga lewat ilmu statistik. Justru spirit itu yang bergerak.\u201d<\/p>\n<p>Lebih jauh Parengkun mengkritik \u00a0keras bahwa globalisasi itu by design. Maka tokoh agama harus tampil menjadi penjaga. Terbitnya UU Kesehatan, Omni Bus Law justru \u00a0menghilangkan hak kita. \u00a0Tidak hanya itu, amendemen tahun 2002 merupakan jalan masul karpet merah untuk import dan\u00a0 itu terkait kapotalis. \u00a0Tahun 2045 dikatakan ada bonus demografi anak muda, menurutnya itu \u00a0omong kosong.<\/p>\n<p>\u201cRamai-ramai kita \u00a0mendukung \u00a0calon A, B, C di Pemilu 2024, saya katakan \u00a0tidak menjamin \u00a0kepentingan Anda diakomodir. Sama saja mereka tetap memakai lingkungan \u00a0circle sendiri. Tidak ada seleksi alami tapi semua by desain. Karana sangat sedikit pemimpin \u00a0negarawan dan pemimpin nasionalis sekarang,\u201d kritiknya tajam.<\/p>\n<p>Tampi narasumber terkhir Jend. Purn. Tyasno Sudarto memandang bahwa \u00a0acara ini sangat penting. Menurutnya apa yang disampaikan tokoh-tokoh sebelumnya \u00a0sangat \u00a0luar biasa.<\/p>\n<p>Pertanyaannya, kalau kita berjuang caranya bagaimana? Indoneaia ini lahir bangsa (17 Agustus) dulu baru negara (18 Agustus). \u201cSaran saya dan ini juga intisari adalah kunci untuk Indonesia maju. \u00a0Kunci itu ada dua sisi yaitu\u00a0 sistem \u00a0dan pemimpin harus bagus. Bicara \u00a0sistem kita \u00a0harus kembali UUD 1945 dan tidak ada cara lain. Kedua bicara \u00a0pemimpin maka dia harus seorang Pancasilais sejati,\u201d pungkas KSAD TNI Tahun 2002 ini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, Warningtime.com &#8211; Forum Kenegarawanan kembali menggelar kegiatan kepedulian bangsa dan negara. Kali ini menggelar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,10],"tags":[],"class_list":["post-7431","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-fokus","category-indonesia","has_no_thumb"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7431","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7431"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7431\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7433,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7431\/revisions\/7433"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7431"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7431"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7431"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}