mpkBerbicara Pendidikan Kristen sudah pasti tidak terlepas dengan gereja sebagai aktor utama pendukungnya. Sejak dulu, awal masuknya gereja ke Indonesia, salah satu pelayanan misi mula-mula gereja adalah mendirikan sekolah-sekolah Kristen. Kala itu misionaris gereja beranggapan bahwa pendidikan dipandang penting sebagai modal utama untuk mengubah cara berpikir seseorang (tradisionil), sekaligus mengubah kehidupan masyarakat.

Namun yang menjadi pertanyaan, belakangan ini mengapa Pendidikan Kristen seolah terlihat berjalan sendiri? Bukan rahasia lagi bahwa Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) yang mengelola sekolah-sekolah Kristen sepertinya dibiarkan berjalan sendiri. Memang, sebabnya bukan karena gereja menarik diri serta merta, tetapi salah satu alasan gereja menjaga jarak  karena berlakunya UU Yayasan. Demikian diungkapkan Ketua Majelis Pendidikan Kristen (MPK) David J Tjandra ketika ditemui GAHARU di bilangan Slipi di Kantor MPK menanggapi seputar hubungan Pendidikan Kristen dan gereja.

“Tak usah heran, dampaknya Sekolah Kristen sekarang cenderung mahal. Akibatnya banyak sekolah Kristen tutup di daerah, baik karena tidak mampu bersaing dan juga “putus” hubungan dengan gereja pendukungnya,” ungkap pria paruh baya yang lama mengabdi di Perguruan IPEKA ini sebelum diangkat menjadi ketua MPK.

Sebelum berbicara lebih jauh masalah-masalah yang timbul di sekolah-sekolah Kristen, David mencoba melihat cara pandang dalam konteks pendidikan yang lebih luas yakni sistem pendidikan nasional.

“Saya setuju dengan Menteri Pendikan Dasar dan Menengah Anis Baswedan bahwa pendidikan kita sekarang sedang gawat darurat,” ucapnya mengawali perbincangan sore itu. Dalam kondisi pendidikan yang gawat darurat ini, kata David harus segera diadakan pembenahan. Artinya di dunia pendidikan harus ada revolusi mental. Hal ini terjadi karena pendidikan hanya memikirkan akademis, kognitif.

Sementara, di sisi lain, negeri kita sebenarnya tidak memerlukan orang-orang yang terlalu pinter saja tetapi harus balance dengan karakternya. Pendidikan itu tujuannya bukan hanya menghasilkan orang pinter saja tetapi lebih dari itu yakni menghasilkan orang pintar yang bertanggung jawab dan memiliki karakter kuat.

Dalam rangka itulah MPK Mei ini akan mengadakan Konsultasi Nasional  (Konas) Pendidikan di Surabaya. Tujuannya adalah mengikutsertakan gereja untuk memikirkan secara bersama tentang masa depan Pendidikan Kristen ke depan dalam rangka memberikan kontribusi kepada Pendidikan Nasional.

“Kami pandang acara itu sangat perlu untuk solusi pendidikan yang gawat darurat,” tutur David sembari menambahkan bahwa kegiatan itu dilakukan karena tugas MPK selama ini lembaga penghubung antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan sekolah-sekolah Kristen. Hasil pertemuan itu nanti akan diajukan sebagai rekomendasi kepada pemerintah.

“Konas Pendidikan beberapa tahun lalu di Batam, MPK juga memberikan rekomendasi kepada pemerintah salah satunya tentang ujian nasional. MPK mengusulkan Ujian Nasional (UN) jangan lagi dipakai syarat kelulusan seorang siswa tetapi kalau diadakan untuk tujuan pemetaan kualitas pendidikan tidak masalah. Kita bersyukur rekomendasi ini diakomodasi oleh Kemendikbud, sekalipun baru tingkat SD dan ke depan kita berharap juga diberlakukan di tingkat SMP dan SMU,” jelas David bangga.

David membeberkan, rekomendasi itu menjadi penting karena faktanya UN di berbagai daerah telah menjadi ajang ketidakjujuran demi mengejar target kelulusan sekolah. Terakhir ketika audensi dengan menteri, tambah David hasil kajian untuk UN ternyata bukan sekadar akademis saja tetapi juga integritasnya.

“Tentu saja, kita (MPK) sangat setuju terhadap hasil kajian dari Pak Baswedan karena menjadikan integritas salah satu pertimbangan kelulusan. Ini sangat baik untuk pendidikan Indonesia ke depan,” David mengapresiasi kebijakan tersebut.

Jadi kalau pihak kementerian sudah memberikan kajian dalam pendidikan dengan memunculkan syarat akademis dan integritas berarti itu pendidikan sudah on the track. Karena dari segi integritas dan karakter yang mulia itu bisa diperhatikan. Kalau itu berjalan baik sangat bagus sehingga anak didik Indonesia akan berjalan dengan baik.

“Terus terang saja sekrang ini hampir tiap hari kita lihat ada pelaku korupsi-korupsi, itu pasti produk pendidikan juga. Mereka orang-orang pintar tetapi pintarnya buat mengakalin dan merampas uang negara. Untuk itu, tandas David, generasi berikutnya jangan seperti ini lagi. Karena itu perlu sejak pendidikan usia dini menghasilkan generasi yang lebih baik daripada generasi yang sekarang. Saya pikir generasi sekarang sudah tercemar dan titdak bisa berbuat apa-apa lagi,” kritiknya serius.

Indonesia harus mencari generasi baru yang bersih. Bersih dari korupsi, narkoba, pelecehan seksual dan kejahatan lainnya. Memang di era ini dunia pendidikan untuk anak-anak menghadapi tantangan yang sangat berat terutama dengan kemajuan teknologi yang ada yang bisa berdampak negatif. Tak dipungkiri bahwa teknologi tidak bisa dipisahkan dan terkait erat dengan pendidikan itu sendiri.

Untuk itu, jelas David, semua yang terjadi belakangan ini yang menyangkut dengan pendidikan terutama di sekolah-sekolah Kristen dalam Konas Pendidikan Surabaya nanti akan dibicarakan dan hasilnya disampaikan kepada pemerintah.

Seperti diketahui MPK selama ini representasi perwakilan Sekolah-Sekolah Kristen. Adapun MPK terdiri dari unsur gereja dari interdominasi dan perwakilan dari Yayasan-yayasan Pendidikan Kristen.

 

Menteri Apresiasi Pendidikan Kristen

Salah satu kebanggaan MPK dan Sekolah-Sekolah Kristen sekarang karena Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Anas Baswedan menyatakan bahwa dirinya sangat mengapresiasi kemajuan Pendidikan Kristen.

“Pak Baswedan bilang mau belajar juga pada Pendidikn Kristen,” beber David yang memberikan apresiasi juga kepada pemerintah dan semua pihak yang telah menyelenggarakan pendidikan. Saat ini dunia pendidikan semakin maju termasuk Sekolah-Sekolah Negeri, Sekolah Muhammadiyah dan pendidikan berlabel agama yang lain. “Sekarang ini kita semua saling belajar mana keunggulan dan kekurangan masing-masing demi kemajuan pendidikan bangsa.”

Bagi David, Pendidikan Kristen harus memberikan dampak atau kontribusi nyata bagi bangsa, sebab kalau tidak buat apa ada pendidikan Kristen? Kalau tidak bisa berbuat lebih baik silahkan copot aja nama Kristennya.

Diakuinya, ada persoalan sedikit dalam pendidikan Kristen dengan terbitnya UU Yayasan. Dampaknya yang paling nyata gereja memisahkan diri dengan sekolah binaannya. Kuatir dengan aturan UU Yayasan, gereja cenderung menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pada Yayasan dan tak mau ikut campur lagi. Akibatnya Sekolah Kristen seperti kehilangan induknya. Terjadi missing link antara Gereja dan Sekolah binaannya. Ekses pertama adalaah sisi kerohanian sekolah langsung kurang mendapat perhatian dari gereja. Sebenarnya dengan kehilangan dari sisi rohaninya, yang menjadi ciri dari nama Kristen, maka sekolah hanya mengutamakan segi akademis aja.

Kalau bicara akademis saja, terbukti ada banyak Sekolah Kristen yang top di kota-kota memunculkan prestasi akademik mumpuni, misalnya menjadi juara olimpiade nasional bahkan internasional. Namun prestasi akademis yang spektakuler itu bukan menjadi jaminan dan tentu saja belum meyakinkan semua muridnya cerdas. Pertanyaan utamanya adalah apakah lulusannya itu berbeda tidak dengan sekolah umum kebanyakan? Jangan-jangan sama saja.         “Jangan sampai pintar di otak saja karena banyak yang seperti ini tetapi melakukan perbuatan yang melawan hukum. Kalau akademis tak diikuti dengan integritas tadi maka percuma dan sangat berbahaya,” David mengingatkan pentingnya perpaduan kualitas akademis dan integritas.

Untuk itu menjawab permasalahan yang disebut di atas, MPK akan memberikan semacam aturan main seperti apa Pendidikan Kristen itu. Harus ada rambu-rambunya. Seperti apakah sebuah sekolah layak disebut Sekolah Kristen. Apakah karena namanya saja atau ada persekutuan doanya atau ada ayat firman bertebaran di sekolah? Kalau cuma seperti itu saja tidak akan mengubahkan semua orang. Jadi revolusi mental itu, sambung David, jangan hanya slogan tetapi harus menyentuh persoalan dasar yakni perubahan akal budi kita.

Menanggapi kritik keras dari masyarakat tentang komersialisasi pendidikan di Sekolh Kristen? David mengakui bahwa hal seperti itu tak dipungkirinya. Menurutnya di satu sisi ada ekses negatif karena lebih karena ada pribadi-pribadi pengelolan pendidikan lebih mengejar profit oriented.

Disisi lain, kata David, Pendidikan Kristen juga sedang mengembangkan pendidikan yang berkualitas. Nah bicara pendidikan berkulitas itu pasti tidak terlepas dari biaya. Kita tahu tuntutan gaji guru sangat mahal.   Sudah tidak ada guru sosok Umar Bakri yang dulu. Selain itu, memang dibutuhkan dana untuk menjamin semua fasilitas yang perlu. Untuk mencapai pendidikan yang bermutu itu yang menyebabkan pendidikan mahal.

Meski demikian, David juga membeberkan fakta bahwa tak selamanya seperti kondisi itu. Menurutnya beberapa Sekolah Kristen di kota besar yang memiliki dana lebih (untung) mereka ini justru memberikan subsidi silang di sekolah-sekolah yang ada di daerah-daerah yang dianggap minus, meski dalam lingkup satu yayasan. Memang keuntungan harus dikembalikan kepada pendidikan itu sendiri. Bukan masuk kantong owner atau pemilik.

Diakuinya dengan terus terang, ada sekolah yang berlabel Kristen yang orientasinya pure bisnis. Namun kata David kebanyakan sekolah itu tidak masuk anggota MPK. Dalam menyikapi sekolah yang berlabel Kristen yang bisnis, kata David MPK hanya bisa menghimbau saja untuk berbagi. “MPK tidak mempunyai wewenang menindak kita hanya sekadar menghimbau saja agar cap sekolah Kristen tidak selalu bicara bisnis (mahal).”

Buat MPK Sekolah Kristen harus memperhatikan bahwa Pendidikan Kristen itu sifatnya education for all. Pendidikan itu untuk semua orang dan mereka berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Kalaupun akhirnya bicara kualitas dan kapasitas sekolah yang menentukan, maka akhirnya yang pintar-pintar saja yang bisa masuk, kalau bodoh tidak. Padahal sebenarnya mereka yang dianggap bodoh itu perlu pendidikan seperti misi gereja mula-mula hadir di Indonesia.

“Bagaimanapun, misi pendidikan Kristen itu sifatnya memanusiakan manusia sesuai dengan rancangan Allah atas pribadi manusia masing-masing. Jadi tak bisa hanya bersifat akademis saja, tetapi bisa juga jago bidang art, olahraga dan lainnya. Itu yang perlu dikembangkan,” harap David.

Ancaman Sekolah Kristen

Fakta yang tak terbantahkan bahwa saat ini banyak Sekolah Kristen yang tutup. Salah satu penyebabnya menurut David adalah adanya persaingan antar sekolah, baik yang negeri maupun sekolah berbasis agama yang lain. Hebatnya mereka punya kualitas dan lebih murah ini menjadi pukulan pada sekokah Kristen. “Saya heran juga ada sekolah swasta keagamaan yang berkualitas tapi biaya murah, entah dari mana sumber dananya?” selidik David tentang funding sekolah tersebut.

Sementara Pendidikan Kristen sendiri harus berdiri sendiri di atas kakinya. Kalau dulu masih di dukung gereja sekarang sebaliknya. Dalam hal ini Konas Surabaya nanti akan di bahas dibawa kemana Pendidikan Sekolah Kristen? Apa tetap harus berdiri sendiri atau gereja harus turun dan peduli lagi seperti dulu. Resiko berdiri sendiri Sekolah mahal. Kalau tidak ada solusi yang tepat makan ke depan semakin banyak sekolah Kristen tutup karena terbentur dengan pendanaan.

“Kita sedih juga ada satu yayasan pendidikan di Solo yang usianya hampir satu abad tetapi mau tutup karena tidak ada biaya dan murid. MPK terus bantu memotivasi agar bertahan. Bayangkan sudah satu abad hadir mosok tutup begitu saja, kan sayang!” tutur David dengan mengangkat bahunya.

Memang mundurnya Sekolah Kristen itu bukan sekedar masalah keuangan atau kehilangan murid tetapi faktanya adalah sekolah-sekolah lain pun berbenah diri dan semakin maju. Mereka bahkan punya STIKIP sendiri sementara di Kristen yang berminat jadi guru semakin berkurang inilah persolan juga. Tentu saja ini jadi bahan intropeksi diri bagi stokholder Sekolah Kristen.

Disisi lain, usul David, Sekolah-Sekolah Kristen harus menerjemahkan apa menjadi kelebihan dan ciri khasnya sebagai Sekolah Kristen itu sendiri dalam hal ini terkait kurikulum. Karena hampir tak ada bedanya kurikulum sekolah Kristen dengan sekolah-sekolah lain. Ke depan harus ada keunikan atau kelebihan sendiri. “Kalau tak ada kelebihan mau ngapaiin masuk sekolah Kristen,” tanya David.

Dalam rangka membentuk karakter yang terkait integritas tadi maka MPK sedang mengusulkan adanya gembala sekolah. Tujuannya agar sisi kerohanian siswa terpelihara. Dengan demikian warna sekolah Kristen itu terjaga. Karena kalau pendidikan Kristen sampai melakukan hal yang buruk yang malu gereja juga.

Dalam kiprah pelayanannya selama ini, MPK memberikan apresiasi tinggi kepada sekolah-sekolah Kristen yang mampu bertahan dengan baik. MPK berjanji akan selalu jadi fasilitator yang baik dalam membantu menghubungkan yayasan dan gereja dengan pemerintah. Selain itu MPK juga pro akftif mencarikan donatur untuk siswa-siswa yang tidak mampu. Bahkan MPK juga turut mencarikan donatur untuk sekolah-sekolah anggotanya yang kekurangan dengan menghubungkan dengan pengusaha-pengusaha yang bersedia membantu.

Diminta tanggapannya tentang UU Sisdiknas yang sempat ditentang terutama terkait dengan penyediaan sarana ibadah sesuai agama muridnya di sekolah umum dan swasta? Dengan bijak David menjawab bahwa Pasal 12 dan 55 memang sempat diributkan khususnya sekolah berlatar agamis. Pasal 12 mencantumkan bahwa anak didik harus mendapat pelajaran agamanya. Sementara Pasal 55 UU yang sama menyatakan bahwa masyarakat mempunya kekhasan masing-masing. Nah, Pasal 55 yang menjadi acuan dan tetap kita perjuangkan.

“Kekhasan itu menjadi legalitas untuk membuat mata ajaran sendiri, yang juga melekat identitas sekolah. Sebenarnya dalam prakteknya orang tua murid tak pernah mempersoalkan kewajiban mengikuti mata ajar agama tertentu, justru yang luar mengancam-ngancam. Sudah disepakati sejak awal antara sekolah dan orang tua. Jadi clear soal masalah kewajiban pendidikan agama Kristen,” simpul David Tjandra.    Saat ini MPK sendiri menaungi 380 anggota Yayasan dan Sekolah Kristen yang tersebar di seluruh Indonesia.

 

 

 

Komentar Facebook
https://warningtime.com/wp-content/uploads/2016/05/mpk.jpghttps://warningtime.com/wp-content/uploads/2016/05/mpk-150x150.jpgadminwarningtimeFokusBerbicara Pendidikan Kristen sudah pasti tidak terlepas dengan gereja sebagai aktor utama pendukungnya. Sejak dulu, awal masuknya gereja ke Indonesia, salah satu pelayanan misi mula-mula gereja adalah mendirikan sekolah-sekolah Kristen. Kala itu misionaris gereja beranggapan bahwa pendidikan dipandang penting sebagai modal utama untuk mengubah cara berpikir seseorang (tradisionil), sekaligus...Mengungkap Kebenaran