WT.Com Jakarta – Dalam pandangan Yulius Aris Widiantoro bicara kebhinnekaan bicara Indonesia yang beragam. Inspiring dari buku Sutasoma, bicara kebhinnekaan di situ ada sumbangsih anak-anak muda. Hal itu disampaikan di Sekolah Tinggi Teologia Bethel Indonesia (STTBI)  dalam Talks Show Bertajuk: Merajut Kebersamaan dalam Kebhinnekaan dalam rangka menyambut mahasiswa Pascasarjana Tahun 2022, di  STTBI Petamburan, Jakarta Pusat, Jumat (3/09/2022) menampilkan narasumber antara lain Dr. Gernaida Kr. Pakpahan dan Yulius Aris Widiantoro. Kegiatan ini diikuti mahasiswa pascasarjana secara daring.

Saat Founding Fathers mendirikan negara maka disepakati negara bangsa. Ironisnya perbedaan sekarang sudah kondisi akut. Pada  tahun 1928 Kongres Pemuda sudah sepakat meletakkan primordialis menjadi keindonesiaan. Maka spirit Pancasila adalah kebhinnekaan. Bicara Indonesia “kitab sucinya” Pancasila.

“Saya tergelitik dengan sikap orang Kristen, ketika ada yang  membangun identitas berbeda di sekitar kita, kita tidak berusaha menjembatani dan membangun kebersamaan dan persaudaraan,” bebernya.

Menurutnya, tempat pelayanan bukan hanya mimbar gereja, tapi seluruh pelosok Indonesia. Gereja sering  tidak jadi rahmat bagi sesama. Seringkali  dalam mimbar masih dijumpai bicara sesat dan menyesatkan yang lain. Kita harus merubah pradigma.

Bahwa kita diciptakan di Indonesia apa yang kita lakukan, kita harus berinteraksi dengan seluruh anak bangsa dari latar belakang mana pun. Kita harus keluar untuk berbuat. Kita harus merubah pradigma misalnya hanya berdiakonia hanya saat bencana.

“Penting merubah pradigma tetapi jangan merubah identitas. Itu yang dilakukan Yesus ketika bertemu orang Samaria. Makanya pendekatan transformatif bukan karikatif,” tegas penulis buku ini.

Demokrasi harusnya afirmasi dan oposisi. Karena itu kita membutuhkan kedewasaan berorganisasi. Harus ada orang berani menyuarakan kalau institusi kita melenceng. Dalam konteks Indonesia kalau ada yang menyuarakan ganti Pancasila dan NKRI maka kita harus bergerak untuk memperjuangkan dan menegakkannya.

“Saya sepakat yang hilang  adalah persatuan dan persaudaraan dalam bangsa kita. Yang ditonjolkan justru identitas. Seharusnya identitas tidak melekat kepada tubuh tapi ke perilaku kita. Kalau yang lain membawa politik identitas tapi gereja tidak boleh berlaku sama, harus tetap mengoptimalkan persaudaraan. Secara formal sudah ada tapi implementasinya belum,” imbuhnya.

Menurutnya, kita (anak-anak Tuhan) dinamis dalam manifestasi tapi tidak perubahan pradigma. STTBI harus kerja keras lagi untuk itu, talks show ini satu langkah yang baik  dan perlu diintensifkan ke depan.

Komentar Facebook
https://warningtime.com/wp-content/uploads/2022/09/Screenshot_20220904-101247_WhatsApp-1024x925.jpghttps://warningtime.com/wp-content/uploads/2022/09/Screenshot_20220904-101247_WhatsApp-150x150.jpgadminwarningtimeFokusInspirasiWT.Com Jakarta - Dalam pandangan Yulius Aris Widiantoro bicara kebhinnekaan bicara Indonesia yang beragam. Inspiring dari buku Sutasoma, bicara kebhinnekaan di situ ada sumbangsih anak-anak muda. Hal itu disampaikan di Sekolah Tinggi Teologia Bethel Indonesia (STTBI)  dalam Talks Show Bertajuk: Merajut Kebersamaan dalam Kebhinnekaan dalam rangka menyambut mahasiswa Pascasarjana...Mengungkap Kebenaran