{"id":2581,"date":"2017-04-05T14:28:13","date_gmt":"2017-04-05T14:28:13","guid":{"rendered":"http:\/\/warningtime.com\/?p=2581"},"modified":"2017-04-05T14:28:37","modified_gmt":"2017-04-05T14:28:37","slug":"seminar-nasional-uki-merawat-kemajemukan-masyarakat-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/2017\/04\/05\/seminar-nasional-uki-merawat-kemajemukan-masyarakat-indonesia\/","title":{"rendered":"Seminar Nasional UKI: Merawat Kemajemukan Masyarakat Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-full wp-image-2582\" src=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/uk.jpg\" alt=\"uk\" width=\"581\" height=\"379\" srcset=\"https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/uk.jpg 581w, https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/uk-300x196.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 581px) 100vw, 581px\" \/>Mencermati dinamika kehidupan masyarakat Indonesia yang belakangan mengalami pasang surut, \u00a0Unit Pelayanan Konseling dan Kerohanian Universitas Kristen Indonesia \u00a0(UKI) \u00a0menyelenggarakan seminar kebangsaan bertema: Merawat Kemajemukan Dalam Bingkai NKRI.\u201d Seminar yang dihadiri lebih dari lima ratus orang dilangsungkan di Grha William Soeryadjaya, Kampus UKI, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (5\/4\/2017).<\/p>\n<p>Seminar ini menghadirkan pembicara lintas agama antara lain Romo Benny Susetyo dan Pdt Dr Andreas Yewangoe. Dua pembicara lainnya, Yenny Zanuba Wahid dan Dr Refly Harun yang sudah dijadwalkan hadir, sayangnya berhalangan hadir. Meski demikian tidak mengurangi semaraknya berlangsung seminar.<\/p>\n<p>Tampil pemakalah pertama, Romo Benny Susetyo langsung memaparkan pandangannya tentang bagaimana merawat kemajemukan masyarakat Indonesia. Menurutnya salah satu contoh yang nyata dalam merawat kemajemukan adalah seperti apa yang dilakukan alm Romo Mangun di Yogyakarta.<\/p>\n<p>\u201cSaya kira apa yang dilakukan Romo Mangun di Yogyakarta adalah contoh nyata bagaimana masyarakat majemuk itu berjalan harmonis. Persoalan kebangsaan akan selesai jika banyak melakukan apa yang ditunjukkan Romo Mangun, baik dalam karya dan hubungan dengan masyarakat,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Sementara Pdt Dr Andreas Yewangoe yang hadir mewakili Institut Leimena menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kebangsaan dan itu sudah final. Mantan Ketua Umum PGI dua periode ini meminta semua pihak agar berada di koridor itu.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia dibentuk founding father sebagai negara kebangsaan bukan negara agama. Saya mengamati tidak satu pun negara yang menyatakan sebagai negara agama lebih maju dari negara kebangsaan,\u201d tukas Yewangoe.<\/p>\n<p>Kata Yewangoe, Philipina yang Katolik juga tidak lepas dari korupsi. Tidak satu pun negara agama di dunia yang bebas dari korupsi.<\/p>\n<p>\u201cSaya mengamati negara-negara seperti Philipina ataupun Papua Newgini yang menegaskan Kristen di konstitusinya, negaranya tidak bebas dari korupsi. Di sana juga banyak korupsi seperti kita lihat,\u201d bebernya.<\/p>\n<p>Kemajemukan masyarakat Indonesia yang terdiri dari pelbagai suku, agama, dan budaya merupakan aset bangsa yang dikenal hingga ke mancanegara. Di tengah keadaan yang penuh keragaman tersebut, sistem demokrasi hidup dan mewadahi aspirasi setiap warga Negaranya. Namun dalam praktiknya, seringkali muncul gesekan yang mengatasnamakan agama. &#8220;Seminar ini merupakan salah satu prasyarat terwujudnya masyarakat modern yang demokratis,&#8221; tulis penyelenggara di dalan siaran persnya.<\/p>\n<p>Seminar dipandu tuan rumah, peneliti sekaligus dosen Fisipol UKI Dr. Sidratahta Mukhtar bertindak sebagai moderator. Selain mahasiswa UKI hadir juga peserta dari berbagai kampus dan warga umum. Pada akhir acara, Rektor Dr Maruarar Siahaan memberikan cenderamata kepada kedua pembicara dan moderator.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Mencermati dinamika kehidupan masyarakat Indonesia yang belakangan mengalami pasang surut, \u00a0Unit Pelayanan Konseling dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2582,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,10],"tags":[],"class_list":["post-2581","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-home","category-indonesia","has_thumb"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2581","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2581"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2581\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2583,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2581\/revisions\/2583"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2582"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2581"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2581"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2581"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}