{"id":2857,"date":"2017-05-09T15:32:57","date_gmt":"2017-05-09T15:32:57","guid":{"rendered":"http:\/\/warningtime.com\/?p=2857"},"modified":"2017-05-09T15:37:16","modified_gmt":"2017-05-09T15:37:16","slug":"arseto-pariadji-hormati-putusan-hakim-tetapi-bela-yang-tertindas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/2017\/05\/09\/arseto-pariadji-hormati-putusan-hakim-tetapi-bela-yang-tertindas\/","title":{"rendered":"Arseto Pariadji: Hormati Putusan Hakim  Tetapi Bela Yang Tertindas"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-2858\" src=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/arseto.jpg\" alt=\"\" width=\"387\" height=\"392\" srcset=\"https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/arseto.jpg 241w, https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/arseto-45x45.jpg 45w\" sizes=\"auto, (max-width: 387px) 100vw, 387px\" \/><strong>JAKARTA<\/strong> &#8211; Menanggapi putusan hakim PN Jakarta Pusat, Selasa, 09\/05\/2017 yang memutus 2 tahun penjara dan menjebloskan Basuki Tjahaja Purnama ke penjara Cipinang,\u00a0 Ketua Persatuan Demokrasi dan Toleransi Indonesia (PTDI) Arseto Pariadji menyatakan bahwa dirinya tetap menghormati putusan hakim.<\/p>\n<p>\u201cSaya hormati putusan hakim. Pengalaman ini memberikan pelajaran bahwa kita harus belajar dalam berpolitik. Banyak juga teman yang protes, dan disampaikan ke saya supaya pemerintah bertindak adil, memperlakukan sama baik secara suku dan agama di Indonesia. \u00a0Jadi tidak dibenarkan intimidasi terhadap Ahok dan \u00a0tidak boleh terjadi lagi,\u201d tegasnya di Hotel Gading Serpong.<\/p>\n<p>Menurut Arseto, terlihat tuntutan jaksa yang satu tahun dengan dua tahun masa percobaan \u00a0tidak menjadi pijakan hakim, tetapi hakim memiliki keyakinan sendiri dengan memvonis lebih berat yakni dua tahun, \u00a0karena terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah penistaan agama.\u00a0 Apalagi \u00a0langsung diperintah ditahan.<\/p>\n<p>\u201cPerbuatan Ahok bukan pidana berat seperti korupsi atau pembunuhan, sebenarnya itu terlalu berat. Kasian Ahoknya, keras melawan keras jadi begini jadinya, tapi nasi sudah jadi bubur. Saya murni membela dia yang tertindas, meski saya juga tegaskan orang Kristen tidak boleh menghina agama lain,\u201d kata Arseto.<\/p>\n<p>Meski demikian, Arseto kembali menegaskan menghormati putusan hakim. Namun, \u00a0dirinya juga meminta agar pemerintah bertindak tegas dalam menindak kelompok radikal. Menurutnya apa yang terjadi di Indonesia sudah seperti gelombang yang terjadi di Amerika dengan kentalnya politik identitas. Arseto meyakini bahwa ada radikalisme di belakangnya. Karena, kata Arseto secara politik sudah berhenti. Jangan sampai kaum radikal mengusai Indonesia. Bahkan, menurutnya ISIS bisa mempengaruhi\u00a0 <em>mainset<\/em> siapa saja, \u00a0termasuk orang terdekat kita.<\/p>\n<p>Labih jauh, dirinya juga mengajak membuka mata dengan pemberitaan dunia dengan Indonesia yang terlihat memberitakan negatif dengan kejadian ini. \u201cHakim-hakim Indonesia memenjarakan gubernur aktif dengan penistaan, sama sekali tidak keren dan bisa membuat kita malu sebagai negara yang dari dulu dipuji dengan toleransinya,\u201d imbuhnya mengingatkan.<\/p>\n<p>Menurutnya, ancaman terorisme lebih berbahaya. Itu yang harus diwaspadai. \u201cHarapan saya melihat kasus Ahok, maka \u00a0bergelut politik itu harus berhati-hati, dan bersikap dengan baik. Dari awal saya sudah menduga akan berakhir demikian. Sejak\u00a0 setahun lalu saya sudah kritik kinerja bahkan sebelum demo 212 itu,\u201d jelas Arseto yang tetap optimis Indonesia akan lebih baik ke depan, meski harus ada yang dikorbankan. Seperti Amerika dengan Martin Luther King, Jr atau Nelson Mandela di Afrika.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Menanggapi putusan hakim PN Jakarta Pusat, Selasa, 09\/05\/2017 yang memutus 2 tahun penjara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2858,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,10],"tags":[],"class_list":["post-2857","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-home","category-indonesia","has_thumb"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2857","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2857"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2857\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2859,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2857\/revisions\/2859"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2858"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2857"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2857"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2857"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}