{"id":3807,"date":"2018-03-03T11:22:09","date_gmt":"2018-03-03T11:22:09","guid":{"rendered":"http:\/\/warningtime.com\/?p=3807"},"modified":"2018-03-03T11:22:33","modified_gmt":"2018-03-03T11:22:33","slug":"diskusi-publik-gerkindo-membangun-politik-indonesia-tanpa-mahar-politik-uang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/2018\/03\/03\/diskusi-publik-gerkindo-membangun-politik-indonesia-tanpa-mahar-politik-uang\/","title":{"rendered":"Diskusi Publik GERKINDO: Membangun Politik Indonesia Tanpa Mahar &#8220;Politik&#8221; Uang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"text-decoration: underline;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-3808\" src=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/20180303_170326-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/20180303_170326-300x169.jpg 300w, https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/20180303_170326-768x432.jpg 768w, https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/20180303_170326-1024x576.jpg 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/span>JakartaWT \u2013 Gerakan Kasih Indonesia (GERKINDO) menyelenggarakan Diskusi Publik <em>Menciptakan Politik Bersih Tanpa Mahar Untuk Indonesia Sejahtera<\/em> Sabtu, (3\/03\/2018) Gedung Juang 45, Menteng Jakarta Pusat.<\/p>\n<p>Tampil sebagai pembicara Dr. Bibit Samad Rianto, Ph.D (Wakil Ketua KPK tahun 2009-2011), Dr. Lely Ariane (Pakar Komunikasi Politik), Jeirry Sumampouw (Koordinator Komite Pemilih- TePi dan Ahmad Rofiq (Sekjen Partai Perindo). Diskusi Publik dimoderetori langsung Yerry Tawalujan selaju Ketua Umum GERKINDO.<\/p>\n<p>Sementara penanggap antara lain, Dr. Saur Hasugian (Penasehat GERKINDO), Kuntum Khairu Basa (Ketua Umum Garda Rajawali Perindo-GRIND) dan Beni Pramula (Ketua Umum Koalisi Muda Perindo).<\/p>\n<p>Menarik usul dari Dr Lely Ariane bahwa istilah mahar politik tidak tepat lagi digunakan mengingat korupsi sudah ada dimana-mana. \u201cSaya kira tidak perlu diperhalus, menjadi mahar politik langsung aja ke politik uang atau money politik,\u201d sarannya.<\/p>\n<p>Sementara Bibid Samad menyatakan bahwa semua harus memerangi korupsi. \u201cSaya mendirikan Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi sudah 17 provinsi dan 80 kota. Tugas kita cegah dan menyangkal, mulai dari lingkungan kita sendiri. Masyarakat jangan diam, itu bukan hanya urusan KPK dan Polisi,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Diakuinya sekarang dimana-mana ada korupsi, terlihat aparat juga terlibat korupsi. Kita harapkan partai baru seperti PSI dan Perindo bisa jauh dari korupsi. Jangan pernah menyerah untuk melawan korupsi. Formulanya bagaimana, biasanya semua harus taransparan.<\/p>\n<p>Sekjen Perindo Ahmad Rofiq menjanjikan bahwa siapapun yang terindikasi atau terlibat korupsi tidak ada ampun, pasti dikeluarkan dari partainya. \u201cPartai Perindo sebagai partai baru adalah partai anti korupsi,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Tidak ada formula yang bisa menyelesaikan politik uang dan korupsi, kata Jerry Sumampow dari Tefi. Seperti diketahui bahwa koruptor lebih takut kepada KPK daripada Tuhan. \u201cSaya lebih mendorong supaya ada partai baru ada di parlemen, berharap ada anggota parlemen baru yang bisa membawa harapan baru, terutama culture parlemen atau nilai-nilai baru,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Kesimpulan dari Diskusi Publik papar Yerry Talawujan, setidaknya ada sembilan poin\u00a0 yaitu biaya partai dari negara, money politik racun bagi negara, kaderisasi lemah terbuka politik uang, perlu pendidikan politik, kerja politik budaya tinggi, penegakan hukum secara menyeluruh, partai menjauhi politik transaksional, politik bukan jalan pintas dan partai Perindo hadir memperbaiki Indonesia sejahtera.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JakartaWT \u2013 Gerakan Kasih Indonesia (GERKINDO) menyelenggarakan Diskusi Publik Menciptakan Politik Bersih Tanpa Mahar Untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3808,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-3807","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fokus","has_thumb"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3807","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3807"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3807\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3809,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3807\/revisions\/3809"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3808"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3807"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3807"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3807"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}