{"id":4328,"date":"2018-09-24T11:28:55","date_gmt":"2018-09-24T11:28:55","guid":{"rendered":"http:\/\/warningtime.com\/?p=4328"},"modified":"2018-09-24T14:44:37","modified_gmt":"2018-09-24T14:44:37","slug":"bedah-buku-karya-eporus-emeritus-pwt-simanjuntak-nommensen-layak-dianugerahi-pahlawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/2018\/09\/24\/bedah-buku-karya-eporus-emeritus-pwt-simanjuntak-nommensen-layak-dianugerahi-pahlawan\/","title":{"rendered":"Bedah Buku Karya Ephorus Emeritus PWT Simanjuntak: Parau Sorak Cikal Pertumbuhan HKBP"},"content":{"rendered":"<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-4331\" src=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/20180924_182447-300x130.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"130\" srcset=\"https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/20180924_182447-300x130.jpg 300w, https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/20180924_182447-768x334.jpg 768w, https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/20180924_182447-1024x445.jpg 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Jakarta WT<\/strong> \u2013 Usia purna tidak menghalangi seseorang tidak bisa berkarya dengan baik. Justru semakin tua maka semakin menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Ibarat kata lagu, tua-tua keladi makin tua makin jadi. Begitu juga cerminan Pdt. Dr. PWT Simanjuntak yang meski kini berusia 83 tahun tetapi menulis buku.<\/p>\n<p>Bedah buku Pdt Dr PWT Simanjuntak dengan judul \u201c<em>Dari Parau Sorat Ke Mancanegara<\/em>\u201d berlangsung di Lantai 4 Bakmi GMKI, Jakarta Pusat, Senin (24\/08\/2018). Sebelum diskusi buku terlebih dulu ibadah yang di layani Pdt. Rebecca S Hutasoit dengan membawakan firman sari Mazmur membawa tema: \u201c<em>Masa Tua yang Berdampak.\u201d <\/em><\/p>\n<p>Pada kesempatan itu, sambutan ucapan terimakasih disampaikan oleh Ir. Daniel Simanjuntak yang juga putera Pdt. Dr. PWT. Simanjuntak.<\/p>\n<p>Pdt. Dr. PWT. Simanjuntak pada pengantarnya menyatakan bahwa dulu ada dua orang perempuan yang pertama menjadi pendeta. Tetapi sesuai dengan perkembangan zaman bahwa suatu saat nanti bisa menjadi Eporus dan saat ini sudah ada praeses bahkan menjadi Kepala Departemen di Kantor Pusat HKBP.<\/p>\n<p>\u201cBuku ini berisi sejarah pertumbuhan huria Batak bahwa di huta Parau Sorat, Sipirok pertama kali dua otang Batak yang ditahbiskan. Dari sanalah cikal bakal HKBP menyebar ke nusantara hingga mancanegara,\u201d bebernya.<br \/>\nMengutip ucapan gubernur Raja Inal Siregar pernah menyatakan bahwa Dr. IL. Nommensen pantas dianugerahi Pahlawan Nasional pendidikan. \u201cSaya menghargai jika Nommensen menjadi pahlawan pendidikan sama seperti Dewes Decker,\u201d ujarnya mengutip Raja Inal Siregar.<\/p>\n<p>Pada suatu konferensi, kata PWT Simanjuntak bahwa terjadi pedebatan antara orang Jerman dan Norwegia memperebutkan kewarganegaraan Nommensen mengaku dari negaranya. Namun,\u00a0 Dr. Justin Sihombing pada konferensi ini tampil mengklaim bahwa Nommensen adalah orang Batak karena 56 tahun tinggal di Tanah Batak membuat peserta konferensi terdiam tanda setuju.<\/p>\n<p>Terkait kebatakan Nommensen, sambung PWT Simanjuntak ada satu pertanyaan kenapa tidak dikasih marga meski sudah lama mengabdi dan melayani di Tanah Batak? Jawaban karena nanti menjadi rebutan memberi marganya.<\/p>\n<p>\u201cDibagasan pertumbuhan HKBP seperti mengutip ucapan Dr. Justin hanya tiga hal menonjol darii Batak yaitu adat, gereja dan parbada-bada (konflik),\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Tampil sebagai pembedah adalah Prof. Dr. MR. Matondang, Prof. Dr. Payaman Simanjuntak, Prof. Dr. Mutiara Sibarani dan Pdt. B. Silaen.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta WT \u2013 Usia purna tidak menghalangi seseorang tidak bisa berkarya dengan baik. Justru semakin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4331,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4328","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-home","has_thumb"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4328","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4328"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4328\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4336,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4328\/revisions\/4336"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4331"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4328"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4328"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4328"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}