{"id":5305,"date":"2019-08-19T14:00:31","date_gmt":"2019-08-19T14:00:31","guid":{"rendered":"http:\/\/warningtime.com\/?p=5305"},"modified":"2019-08-19T15:01:45","modified_gmt":"2019-08-19T15:01:45","slug":"bedah-buku-indonesia-tidak-pernah-dijajah-bersama-tiga-professor-di-gedung-dpr-ri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/2019\/08\/19\/bedah-buku-indonesia-tidak-pernah-dijajah-bersama-tiga-professor-di-gedung-dpr-ri\/","title":{"rendered":"Bedah Buku \u201cIndonesia Tidak Pernah Dijajah\u201d Bersama Tiga Professor di Gedung DPR RI"},"content":{"rendered":"<p><strong><a href=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/B1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5306\" src=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/B1.jpg\" alt=\"\" width=\"809\" height=\"510\" srcset=\"https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/B1.jpg 588w, https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/B1-300x189.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 809px) 100vw, 809px\" \/><\/a>Warningtime.com Jakarta<\/strong> &#8211;\u00a0 Ruang KKI Nusantara DPR RI dipenuhi kurang 75 orang dari berbagai lapisan masyarakat untuk menghadiri Bedah Buku \u201cIndonesia Tidak Pernah Dijajah\u201d karya Batara Hutagalung. Kali ini tiga professor tampil bersama memberikan analisa dan tanggapan atas buku Indonesia Tidak Pernah Dijajah yang dianggap kontroversial dan provakatif . Adapun ketiga pembedah tersebut adalah Prof. Dr. Taufik Abdullah (sejarawan), Prof. Dr.\u00a0 Makarim Wibisono (Hub Internasional) dan Prof. Dr. Marthen Napang (Hukum) yang langsung didampingi oleh Batara Hutagalung Senin (19\/08).<\/p>\n<p>Acara diawali dengan sambutan dan tanggapan Dr. Fadli Zon yang memfasilitasi bedah buku tersebut. Wakil ketua DPR RI mengungkapkan bahwa buku Batara Hutagalung \u00a0ini sangat provakatif dan sangat menarik dikaji. \u00a0\u201cSaya kira buku ini sangat menarik dan memang provakatif dengan judul Indonesia Tidak Pernah Dijajah. Benarkah Indonesia 350 tahun di jajah? \u00a0Mungkin Aceh hanya 40 tahun dan Jawa baru 1883 dan juga daerah \u00a0lainnya tentu berbeda. \u00a0Saya sudah lama diskusi dengan Pak Batara dan dia sangat konsern dengan sejarah Indonesia,\u201d ujar Doktor Sejarah dari Universitas Indonesia ini.<\/p>\n<p>Menurutnya, memang Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus sifatnya defacto. Baru \u00a027 Des 1949 \u00a0ada pengakuan secara dejure. \u201cSaya kira seorang sejarawan sejati tidak hanya membaca buku-buku meanstream tapi dia harus punya alat pisau untuk membedah dan menganalisa setiap peristiwa sejarah yang terjadi. Pak Batara \u00a0selain menggeluti sejarah sangat aktif dalam pergerakan,\u201d tutur Fadli Zon.<\/p>\n<p>Dia juga mengajak semua pihak agar melihat bahwa peradaban Indonesia adalah salah satu peradaban tua. Ditandai dengan peninggalan artefak arkeolog Gua liang-liang di Sulawasi Selatan, \u00a0yang memungkinkan peradapan sudah 40.000 tahun. \u00a0\u201cMungkin kita \u00a0perlu membuat rewriting history Indonesia, karena selama ini penulisan sudut pandang penjajah. Mungkin dulu kerajaan dan kesultanan dijajah tetapi tidak semua wilayah,\u201d jelasnya \u00a0sembari mengapresiasi atas terbit buku Batara Hutagalung ini.<\/p>\n<p>Kemudian diskusi dipandung Dr. Rudy Gunawan dari Universitas HAMKA yang memberikan kesempatan kepada Prof Dr Taufik Abdullah. Sejarawan senior ini mengungkapkan bahwa buku ini enak dibaca tidak saja kalangan sejerawan tapi semua pihak. Buku ini memmang menunjukkan bahwa penulis juga sejarawan.<\/p>\n<p>\u201cKetika membaca buku \u00a0ini pertama saya langsung teringat dengan buku Tan Malaka berjudul Naar de Republiek Indonesia (Negara Republik Indonesia) tahun 1945. Kedua, juga teringat buku terbitan tahun 1923 Indische Vereeging (Hindia Putera) diterbitkan di negara Belanda. Ini menjelaskan Indonesia dalam masyarakat dunia,\u201d tutur mantan Ketua LIPI ini.<\/p>\n<p>Taufik Abdullah mengakui bahwa suasana buku-buku di atas masuk dalam \u00a0suasana Buku Indoesia Tidak Pernah Dijajah. Fakta-fakta diceritakan berbeda. \u201cYa masuk akal juga Indonesia tidak pernah dijajah. Karena Perhimpuanan Indoneaia didirikan di Belanda 1926, ketua pertama Dr Sukiman,\u201d tukasnya.<\/p>\n<p>Menurutnya sejarah ditulis bukan sekedar menulis cerita masa lalu, tapi penting lagi untuk menyatakan sesuatu siapa kita? \u00a0\u201cSejak awal saya bertanya mengapa ada buku: Indonesia Tidak Pernah dijajah. Setelah baca jadi mengetahui bahwa yang Indonesia tidak pernah dijajah tetapi yang terjajah itu Hindia Belanda,\u201d urainya.<\/p>\n<p>Waktu Bung Hatta diadili di Belanda tahun 1926, lebih dulu dari Bung Karno, pidatonya \u00a0berjudul:\u00a0 Indonesia\u00a0 Merdeka. Kemudian Bung Karno membuat pidato: Indonesia Menggugat. Seperti ada korelasi pidato kedua proklamator itu. \u00a0Jadi memang kita perlu \u00a0bagaimana mendapatkan sejarah Indonesia centries. Dulu \u00a0sejarawan hebat \u00a0seperti Mr Muhammad Yamin.<\/p>\n<p>\u201cGuru saya Pak Sartono (Prof Dr Sartono Kartodirjo) \u00a0belajar Sosiologi. Disertasi pertama ditulisnya \u00a0tentnag Sejarah Pedesaan di Jawa. Dulu saya kurang tertarik karena bicara sejarah selalu jawa, akhirnya saya menekuni sejarah Eropa. Namun setelah ke luar negeri baru kemudian tertarik belajar mendalami sejarah Indonesia dan menulis sejarah Aceh. Kemudian belajar sejarah Minang, kemudian Sejarah Minangkabau. Pergolakan di Sumbar antara kaum muda dan kaum tua. Sistem Pergerakan Nasional\u00a0 selalu bicara Jawa, saya agak marah akan hal itu sebab \u00a0ternyata banyak tokoh-tokoh dari Sumbar seperti Hatta, Yamin, Tan Malaka, Syahrir dan tokoh lainnya,\u201d bebernya.<\/p>\n<p>Memang buku ini bertolak dengan dialog Indoneaia dengan Belanda. Betul-betul dialog, konsep bangsa jelas bangsa Indonesia, bukan etnik dan antropoligis. \u00a0\u201cSaya anjurkan sekali untuk dibawa pelajaran di sekolah-sekolah,\u201d ajaknya. Kata Indonesia ideologias tidak \u00a0dijajah tetapi secara geografi memang dijajah. Kalau konsep geografi dijadikan ya memang beda.<\/p>\n<p>Sementara Prof. Dr. \u00a0Makarim Wibisono membeberkan \u00a0pengalamannya ketika ikut diklat diplomat di Australia tahun 1975. Salah satu delegasi Amerika Latin bertanya kepadanya apakah benar\u00a0 Indonesia\u00a0 350 \u00a0tahun dijajah Belanda, negara kecil di Eropa. \u201cKetika itu saya kesulitan menjelaskan dan tidak siap akan pertanyaan seperti itu,\u201d kisahnya.<\/p>\n<p>Maka ketika buku itu\u00a0 dikirim ke rumah, \u00a0Prof Wibisono\u00a0 langsung tertarik dan mengakui bahwa buku ini memperkaya khasanah Indonesia untuk menjawab terkait soal penjajahan Belanda di Indonesia. Kenapa Batara harus menulis buku ini? Rupanya dia seorang anak Pahlawan Nasioanal Kolonel \u00a0dr Wiliater Hutagalung.<\/p>\n<p>\u201cBagi saya kaitan buku ini \u00a0tidak aneh. Saya kira buku ini penuh dengan semanagt cinta tanah air. Buku-buku \u00a0seperti ini harus disebarluaskan ke anak-anak dan pelajar-pelajar Indonesia. Saya setuju dengan usulan Pak Fadli bahwa perlu ada Rewriting Indonesia History,\u201d kata Duta Besar Indonesia di PBB,\u00a0 \u00a0Guatemala dana Jamaika.<\/p>\n<p>Yang kedua, kata Prof Makarim buku ini menulis akurat bagaimana Belanda bangsa yang sebenarnya. Sangat memeras dan tidak beradab. Misalnya ketika VOC datang berdagang lada rupanya mereka juga memperjualbelikan penduduk sebagai budak.<\/p>\n<p>\u201cSaya pernah ke Captown, di sana ada pasar Budak dan\u00a0 ada nama-nama orang Indonesia yang diperjualbelikan di sana,\u201d jelasnya. Di dalam buku ini bangsa Belanda kejam. Di saat Banda mempertahankan pasar mereka, Gubernur Jan Peter Coen justru melakukan genocid agar pasar bisa dikuasai. Termasuk dengan orang-orang China di Batavia ketika sukses berdagang mengancam orang Belanda. Mereka \u00a0kemudian dikumpulkan di\u00a0 Jakarta Utara dan\u00a0 dibrondong dan ribuan meninggal.<\/p>\n<p>Jika ditanya Indonesia dijajah sejak kapan? Pertama dijajajah saat Jayakarta dikuasai dan diganti jadi Batavia. \u00a0Kemudian Banda Maluku juga dikuasia. \u201cGambaran bahwa Indonesia dijajah 350 tahun itu merugikan kebangsaan saya. Misalnya Tapanuli, 1900 masih merdeka, juga Aceh dan Bali.<\/p>\n<p>Ini bisa dijadikan amunisi kita dan \u00a0menjawab bangsa lain. \u00a0Buku ini menjelaskan secara jelas \u00a0proses perwalian kekuasan dari Belanda ke Indonesia, tidak seperti \u00a0proses penyerahan daerah jajahan Inggris kepada India atau Malaysia.<\/p>\n<p>\u201cSaya kira buku ini sangat berharga bagi calon diplomat Indonesia.\u00a0 Disini ada mengenai diplomasi. Saya usulkan ini bisa bacaan wajib di sekolah diplomat. Saya pengagum Buku ini dan penulisnya ya Pak Batara,\u201d tutur Prof Makarim Wibisono. Kalau disini dijelaskan bahwa negara dan bangsa Indonesia berdiri 17 Agustus, maka ini temuan akademis yang sangat berharga untuk diplomasi kita ke depan.<\/p>\n<p><strong>Bedakan Pendudukan dan Penjajahan<\/strong><\/p>\n<p>Tampil sebagai pembahas ketiga, uraian Prof Dr Marthen Napang juga tak kalah menarik.\u00a0 Ia mengawali paparannya bahwa pertemuan ini sangat monumental pertemuan. Kehadiran Buku ini merupakan litratur utama dalam memperkaya dan\u00a0 meluruskan fakta sejarah masa lalu.<\/p>\n<p>\u201cSaya kira sejarah ini bicara tiga dimensi yaitu masa lalu, masa kini dan \u00a0bagaimanan membaca masa depan. Keberadan Belanda di Nusantara lewat \u00a0\u00a0VOC motivasinya masuk ke Indonesia adalah\u00a0 motivasi dagang. Demikian juga Spanyol dan Portugis,\u201d tanggapnya.<\/p>\n<p>VOC hadir dalam rangka mencari komuditas bumi yang melimpah ruah \u00a0hasil bumi, \u00a0yang sangat diperlukan di Eropa. Mula-mula berlaku praktek monopoli.\u00a0 Lama kelamaan untuk mempertahankan monopoli maka diturunkan tentara Belanda.<\/p>\n<p>Lebih jauh,\u00a0 Guru Besar UNHAS ini pada masa Jepang dengan \u00a0Perang Asia Timur Raya, mereka\u00a0 keberadaan Belanda tidak boleh ada di Asia Timur Raya. Jepang masuk ke Indonesia bukan untuk menjajah, tetapi mengusur Belanda.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/B2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5307\" src=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/B2.jpg\" alt=\"\" width=\"805\" height=\"499\" srcset=\"https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/B2.jpg 595w, https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/B2-300x186.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 805px) 100vw, 805px\" \/><\/a><\/p>\n<p>\u201cSuasana PD I dan PD II memang ada doktrin Presiden Wilson dari AS yang menyatakan; \u00a0<em>The Right Determination<\/em> atau \u00a0hak menentukan nasib sendiri. Ini keluar karena \u00a0ada kecenderungan pemenang Perang \u00a0untuk membagi-bagi \u00a0wilayah yang dikuasainya. Maka Wilson menetapkan hak untuk menentukan sendiri,\u201d urainya.<\/p>\n<p>Saat di Liga Bangsa-Bangsa (LBB) usulan ini kurang \u00a0disambut. Namun ketika Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) usulan Presiden Wilson\u00a0 ini masuk dalam konstitusi pendirian PBB. Hak menentukan nasib sendiri, hak membentuk pemerintahan sendiri dan kemudian hak \u00a0menentukan bergabung satu negara atau memisahkan diri sendiri. Maka sesungguhnya tidak ada penjajahan yang ada masa itu pendudukan.<\/p>\n<p>Dengan demikian kemerdekaan Indonesia berdasarkan prinsip pendudukan bukan dari penjajahan, tapi pendudukan pemenang perang. Tidak semua negara lahir dari penjajahan. Karena itu harus dibedakan penjajahan dan pendudukan.<\/p>\n<p>\u201cCiri utama penjajahan, terdapat penguasan efektif atas wilayah dan penduduk. Kedua, tidak ada\u00a0 perlawanan fisik dri penduduk yang dijajah. Sedangkan pendudukan ciri utama dalaj \u00a0terdapat penguasaan bagian tertentu dari \u00a0\u00a0wilayah dan penduduk. Kedua ada perlawanan-perlawanan penduduk. Perlawanan\u00a0 seperti itu menjadi tidak ada penguasaan\u00a0 efektif,\u201d beber professor yang lagi ikut seleksi KPK ini.<\/p>\n<p>Maka dari itu, kata mantan ketua PIKI mengatakan bahwa perlawanan-perlawanan ke pasukan Belanda membuktikan tidak ada penguasan efektif semua wilayah \u00a0dan\u00a0 penduduk Indonesia. Dengan demikian tidak ada penjajahan Belanda di dalam nusantara ini. Sebab tidak ada penguasaan efektif,\u201d tutur Advokat senior ini.<\/p>\n<p>Setelah Indonesia merdeka baru ada Agresi Militer Belanda. Seperti dijelaskan di atas tradisi pemenang perang kecendetungan membagi wilayah yang didudukinya kemudian melahirkan perlawanan\u00a0 10 Nopember di Surabaya,\u00a0 Penembakan massal di Rawagede dan kasus Westerling. Dalam kondisi Indonesia mengalami Agresi Militier Belanda,\u00a0 ada yang mengatakan bahwa itu sama dengan \u00a0kejahatan perang.<\/p>\n<p>\u201cSaya kira kita bisa memberi apresiasi \u00a0lebih kepada pahlawan \u00a0yang menjadikan Indonesia tidak pernah dijajah seperti Dipanegoro, Sisingamangaraja, Iman Bonjol dan lainnya. Menurut hemat saya para pahlawan\u00a0 yang melawan bangsa asing melalui pendudukan \u00a0harus lebih dihormati daripada pahlawan kemerdekaan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Sementara penulis Buku Indonesia Tidak Pernah Dijajah Batara Hutagalung pada kesempatan itu menyatrakan bahwa masih banyak celah kosong dari peristiwa sejarah \u00a0Indonesia yang belum diteliti dan ditulis. \u201cSaya kira babakan sejarah Indonesia masih banyak bolongnya misalnya jaman pendudukan Jepang masih sedikit yang mengungkap dan menulisnya dalam karya sejarah. Kajian sejarah Indonesia masih terbuka lebar,\u201d tutur putera dari Kolenel dr Wiliater Hutagalung ini.<\/p>\n<p>Acara bedah buku kali ini berlangsung hampir empat jam lebih. Selain dihadiri tokoh penting seperti Taufikrahman Ruki (eks KPK), Marsekel (Purn) Imam Safaat, Edison Simanjuntak, Indra Piliang (pengamat politik dan sejarawan) para diplomat, guru dan pelajar SMA. \u00a0Bahkan ketika dibuka sesi tanya jawab belasan orang penyanyi secara antusias \u00a0sehingga acara berlangsung sampai sore.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Warningtime.com Jakarta &#8211;\u00a0 Ruang KKI Nusantara DPR RI dipenuhi kurang 75 orang dari berbagai lapisan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5307,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-5305","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia","has_thumb"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5305","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5305"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5305\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5318,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5305\/revisions\/5318"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5307"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5305"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5305"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5305"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}