{"id":5310,"date":"2019-08-19T14:12:56","date_gmt":"2019-08-19T14:12:56","guid":{"rendered":"http:\/\/warningtime.com\/?p=5310"},"modified":"2019-08-19T14:12:56","modified_gmt":"2019-08-19T14:12:56","slug":"prof-dr-marthen-napang-kemerdekaan-indonesia-berdasarkan-prinsip-pendudukan-bukan-penjajahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/2019\/08\/19\/prof-dr-marthen-napang-kemerdekaan-indonesia-berdasarkan-prinsip-pendudukan-bukan-penjajahan\/","title":{"rendered":"Prof. Dr. Marthen Napang: Kemerdekaan Indonesia Berdasarkan Prinsip Pendudukan Bukan Penjajahan"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/M1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-5311\" src=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/M1.jpg\" alt=\"\" width=\"823\" height=\"629\" srcset=\"https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/M1.jpg 528w, https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/M1-300x230.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 823px) 100vw, 823px\" \/><\/a>Warningtime.com Jakarta &#8211; Tampil sebagai salah satu narasumber di Ruang KK1 Nusantara\u00a0 dalam acara bedah Buku Sejarah karya Batara Hutagalung berjudul: Indonesia Tidak Pernah Dijajah,\u00a0 Prof Dr Marthen Napang mengemukakan pandangan menarik terkait perbedaan antara penjajahan dan pendudukan. Menurutnya Indonesia merdeka dari pendudukan bukan penjajahan.\u00a0 \u00a0Ia mengawali paparannya dengan mengatakan bedah buku ini sangat monumental. Kehadiran Buku ini merupakan litratur utama dalam memperkaya dan\u00a0 meluruskan fakta sejarah masa lalu.<\/p>\n<p>\u201cSaya kira sejarah ini bicara tiga dimensi yaitu masa lalu, masa kini dan \u00a0bagaimanan membaca masa depan. Keberadan Belanda di Nusantara lewat \u00a0\u00a0VOC motivasinya masuk ke Indonesia adalah\u00a0 motivasi dagang. Demikian juga Spanyol dan Portugis,\u201d tanggapnya.<\/p>\n<p>VOC hadir dalam rangka mencari komuditas bumi yang melimpah ruah \u00a0hasil bumi, \u00a0yang sangat diperlukan di Eropa. Mula-mula berlaku praktek monopoli.\u00a0 Lama kelamaan untuk mempertahankan monopoli maka diturunkan tentara Belanda.<\/p>\n<p>Guru Besar UNHAS ini pada masa Jepang dengan \u00a0Perang Asia Timur Raya, mereka\u00a0 keberadaan \u00a0Belanda tidak boleh ada di Asia Timur Raya. Jepang masuk ke Indonesia bukan untuk menjajah, tetapi mengusur Belanda.<\/p>\n<p>\u201cSuasana PD I dan PD II memang ada doktrin Presiden Wilson dari AS yang menyatakan; \u00a0The Right Determinatioan atau \u00a0hak menentukan nasib sendiri. Ini keluar karena \u00a0ada kecenderungan pemenang Perang \u00a0untuk membagi-bagi \u00a0wilayah yang dikuasainya. Maka Wilson menetapkan hak untuk menentukan sendiri,\u201d urainya.<\/p>\n<p>Saat di Liga Bangsa-Bangsa (LBB) usulan ini kurang \u00a0disambut. Namun ketika Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) usulan Presiden Wilson\u00a0 ini masuk dalam konstitusi pendirian PBB. Hak menentukan nasib sendiri, hak membentuk pemerintahan sendiri dan kemudian hak \u00a0menentukan bergabung satu negara atau memisahkan diri sendiri. Maka sesungguhnya tidak ada penjajahan yang ada masa itu pendudukan.<\/p>\n<p>Dengan demikian kemerdekaan Indonesia berdasarkan prinsip pendudukan bukan dari penjajahan, tapi pendudukan pemenang perang. Tidak semua negara lahir dari penjajahan. Karena itu harus dibedakan penjajahan dan pendudukan.<\/p>\n<p>\u201cCiri utama penjajahan, terdapat penguasan efektif atas wilayah dan penduduk. Kedua, tidak ada\u00a0 perlawanan fisik dri penduduk yang dijajah. Sedangkan pendudukan ciri utama dalaj \u00a0terdapat penguasaan bagian tertentu dari \u00a0\u00a0wilayah dan penduduk. Kedua ada perlawanan-perlawanan penduduk. Perlawanan\u00a0 seperti itu menjadi tidak ada penguasaan\u00a0 efektif,\u201d beber professor yang lagi ikut seleksi KPK ini.<\/p>\n<p>Maka dari itu, kata mantan ketua PIKI mengatakan bahwa perlawanan-perlawanan ke pasukan Belanda membuktikan tidak ada penguasan efektif semua wilayah \u00a0dan\u00a0 penduduk Indonesia. Dengan demikian tidak ada penjajahan Belanda di dalam nusantara ini. Sebab tidak ada penguasaan efektif,\u201d tutur Advokat senior ini.<\/p>\n<p>Setelah Indonesia merdeka baru ada Agresi Militer Belanda. Seperti dijelaskan di atas tradisi pemenang perang kecendetungan membagi wilayah yang didudukinya kemudian melahirkan perlawanan\u00a0 10 Nopember di Surabaya,\u00a0 Penembakan massal di Rawagede dan kasus Westerling. Dalam kondisi Indonesia mengalami Agresi Militier Belanda,\u00a0 ada yang mengatakan bahwa itu sama dengan \u00a0kejahatan perang.<\/p>\n<p>\u201cSaya kira kita bisa memberi apresiasi \u00a0lebih kepada pahlawan \u00a0yang menjadikan Indonesia tidak pernah dijajah seperti Dipanegoro, Sisingamangaraja, Iman Bonjol dan lainnya. Menurut hemat saya para pahlawan\u00a0 yang melawan bangsa asing melalui pendudukan \u00a0harus lebih dihormati daripada pahlawan kemerdekaan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Acara bedah buku dihadiri tokoh penting seperti Taufikrahman Ruki (eks KPK), Marsekel (Purn) Imam Safaat, Edison Simanjuntak, Indra Piliang (pengamat politik dan sejarawan) para diplomat, guru dan pelajar SMA. \u00a0Bahkan ketika dibuka sesi tanya jawab belasan orang penyanyi secara antusias \u00a0sehingga acara berlangsung sampai sore.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Warningtime.com Jakarta &#8211; Tampil sebagai salah satu narasumber di Ruang KK1 Nusantara\u00a0 dalam acara bedah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5311,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-5310","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia","has_thumb"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5310","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5310"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5310\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5312,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5310\/revisions\/5312"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5311"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5310"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5310"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5310"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}