{"id":6826,"date":"2022-02-16T09:51:11","date_gmt":"2022-02-16T09:51:11","guid":{"rendered":"http:\/\/warningtime.com\/?p=6826"},"modified":"2022-02-16T09:51:11","modified_gmt":"2022-02-16T09:51:11","slug":"marlas-hutasoit-sh-klarifikasi-soal-dugaan-pemalsuan-nilai-lima-mahasiswa-pasca-sarjana-stt-ekumene","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/2022\/02\/16\/marlas-hutasoit-sh-klarifikasi-soal-dugaan-pemalsuan-nilai-lima-mahasiswa-pasca-sarjana-stt-ekumene\/","title":{"rendered":"Marlas Hutasoit, SH: Klarifikasi Soal Dugaan Pemalsuan Nilai Lima Mahasiswa Pasca Sarjana \u00a0STT Ekumene  \u00a0"},"content":{"rendered":"<p><strong><a href=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG-20220216-WA0030.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-6827\" src=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG-20220216-WA0030.jpg\" alt=\"\" width=\"254\" height=\"258\" srcset=\"https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG-20220216-WA0030.jpg 254w, https:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG-20220216-WA0030-45x45.jpg 45w\" sizes=\"auto, (max-width: 254px) 100vw, 254px\" \/><\/a>Jakarta, Warningtime.com<\/strong> &#8211; Beberapa waktu lalu, beberapa \u00a0media nasional (detik.com dan CNN Indonesia) ramai memberitakan bahwa seorang dosen Sekolah Tinggi\u00a0 Teologia (STT) Ekumene\u00a0 Kelapa Gading, Jakarta Utara, Yohanes Parapat melaporkan dugaan pemalsuan surat ke Polda Metro Jaya. Laporan ini terkait, \u00a0adanya lima mahasiswa yang sudah diwisuda\u00a0 secara virtual, padahal mereka belum mendapat nilai pada mata kuliah yang diampu oleh pelapor.\u00a0 Laporan Yohanes \u00a0Parapat terkait lima mahasiswanya itu diterima Polda Metro Jaya\u00a0 dengan nomor STTLP\/B\/6294\/XII\/2021\/SPKT\/Polda Metro Jaya tertanggal\u00a0 15 Desember 2021.<\/p>\n<p>Menanggapi laporan itu, Marlas Hutasoit selaku pengacara STT Ekumene, Kelapa Gading, Jakarta Utara ketika dikonfirmasi menegaskan bahwa pelapor atas nama Yohanaes Parapat, sampai saat ini masih tercatat sebagai\u00a0 salah satu dosen STT Ekumene Kelapa Gading, Jakarta Utara \u00a0di Program Magister atau Pascasarjana.<\/p>\n<p>\u201cIni sebenarnya urusan internal rumah tangga. Perlu diketahui sampai saat ini beliau tercatat\u00a0 dosen STT Ekumene di \u00a0Program Magister. Yang bersangkutan juga sekaligus juga\u00a0 Ketua Alumni STT Ekumene. Bahkan sebelum\u00a0 2021, dia menjabat Direktur Pasca Sarjana kira-kira bersamaan dengan laporan adanya dugaan pemalsuan \u201cijasah atau nilai\u201d \u00a0yang disebut. Jadi kalau melihat tempus (waktu kejadian dugaan pemalsuan)\u00a0 Yohanes Parapat masih menjabat Direktur Pasca Sarjana yakni sekiar \u00a02020-2021,\u201d\u00a0 beber Marlas Hutasoit memberikan penjelasan.<\/p>\n<p>Menurutnya saat ada dugaan pemalsuan itu, \u00a0dia sebagai Direktur Pasca Sarjana STT Ekumene dan \u00a05 orang\u00a0 disebutkan dalam laporan adalah mahasiswa pasca sarjana. \u201cDia \u00a0(Yohanes Parapat) mengetahui dan proses menyetujui Yudisium atau Wisuda tersebut. Bahkan dalam dokumentasi, \u00a0dia juga ikut terlibat dalam wisuda karena memang beliau Direktur Pasca Sarjana,\u201d\u00a0 ungkapnya.<\/p>\n<p>Lebih jauh kata Marlas \u00a0dalam laporannya, \u00a0dia tidak menyebutkan secara spesifik apa saja yang dipalsukan.\u00a0 Artinya menyebut \u00a0\u00a0apa dan bagaimana\u00a0 \u00a0dipalsukan. Dan juga \u00a0dia tidak menyatakan siapa terlapor dan \u00a0siapa korbannya. Apakah \u00a0dia yang jadi korban akibat dari pemalsuan itu tidak jelas. Harus ada korban maka ada \u00a0sisi pidananya.<\/p>\n<p>\u201cKalau mahasiswa yang korban, harusnya si pelapor lima mahasiswa itu. Faktanya ijasah \u00a0itu diterima, terdaftar resmi di Dikti \u00a0Kemendikbudristek dan Dinas Bimas Kristen Kementerian Agama RI. Bahkan \u00a0ada nomor seri yang tercatat resmi di Dikti Kemendikbudristek \u00a0maupun Direktorat Perguruan Tinggi Agama Kristen Kemenag RI. Kita tidak paham sampai hari ini secara konten,\u00a0 apa dan siapa\u00a0 yang korban,\u201d sanggahnya panjang lebar.<\/p>\n<p>Meski demikian, sebagai kuasa hukum STT Ekumene kata Marlas,\u00a0 bahwa pihaknya \u00a0mendukung secara penuh kinerja pihak kepolisian Polda Metro Jaya \u00a0dalam menyingkap tabir atau tuduhan ini, terkati laporan dugaan pemalsuan ini. Diakuinya dengan terus terang, sampai sekarang pihak Polda Metro jaya \u00a0masih melakukan\u00a0 penyelidikan atas laporan dugaan pemalsuan nilai. Mereka telah mengundang para \u00a0pihak dalam rangka meminta klarifakasi.<\/p>\n<p>Dalam\u00a0 hal ini, sambung Marlas, bahwa \u00a0kami \u00a0(pihak STT Ekumene) mendukung proses \u00a0penyeledikan ini.\u00a0 Bahkan kami sudah menghadiri panggilan \u00a0Polda Metro Jaya. Juga \u00a0sudah menyerahkan bukti-bukti \u00a0dan data diperlukan penyidik. Mulai dari perizinan (legalitas)\u00a0 STT Ekumene sampai data \u00a0mahasiswa disebutkan pelapor \u00a0tersebut. Mereka berlima adalah mahasiswa pasca sarjana.<\/p>\n<p>\u201cKita berharap dan menghimbau, beliau (Yohanes Parapat) \u00a0sebagai bagian dari civitas akademika STT Ekumene, \u00a0yang \u00a0sampai hari ini mendapatkan gaji penuh, harusnya bisa menahan diri. Bawa dulu persoalan ini, jika dianggap \u00a0persoalan, bawa dulu ke ranah internal.\u00a0\u00a0 Ini belum pernah dibawa ke internal sudah dilaporkan,\u201d paparnya menyayangkan.<\/p>\n<p>Di dalam \u00a0kita mempunyai mekanisme \u00a0kode etik internal dosen pasca sarjana. Jangan ujug-ujug di bawa ke luar, bahkan nanti \u00a0bisa tuduhan pembunuhan karakter. Bisa merusak citra STT Ekumene yang termasuk dirinya\u00a0 sendiri, \u00a0\u00a0karena \u00a0Yohanes masih tercatat resmi dosen dan Direktur Pasca Sarajana. \u00a0Bahkan saat ini, ia menjadi Ketua Ikatan Alumni STT Ekumene. Oleh karena itu, \u00a0kita \u00a0menghimbau agar menahan diri, jangan euforia atau tendesi dengan menyebarkan masalah, yang dapat \u00a0berpotensi membuat masalah baru ke arah \u00a0hoaks \u00a0maupun berita yang tidak berdasar.<\/p>\n<p>\u201cSebenarnya kami merasa tidak melakukan seperti tuduhan laporan itu. \u00a0Pintu kami senantiasa terbuka\u00a0 bilamana beliau datang mengklarifikasi, \u00a0bertanya atau memperlihatkan tentang tuduhan itu, \u00a0kita dengan senang hati\u00a0 menunggu.\u00a0 Sebab, \u00a0ini semacam urusan rumah tangga, cocoknya diselesaikan dalam ranah internal rumah tangga STT Ekumene. Kalau merasa\u00a0 \u00a0STT ini tidak disayangi lagi \u00a0dan tidak peduli, ya silahkan mengambil sikap, ya harus gentlemenlah. Mungkin lebih baik cari yang lebih bonafid,\u201d tukas\u00a0 Marlas.<\/p>\n<p>Ditambahkan, \u00a0pelapor tahu persis \u00a0sejauhmana seluk beluk \u00a0STT \u00a0Ekumene. Nama Ekumene sendiri merupakan peralahin dari manjeman lama ke yang baru sekarang. Di manajemen lama \u00a0dia (yohanes) \u00a0terlibat, \u00a0dia salah satu actor dan saksi \u00a0ikut dalam peralihan\u00a0 STT ini,\u00a0 hingga menjadi STT Ekumene sekarang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, Warningtime.com &#8211; Beberapa waktu lalu, beberapa \u00a0media nasional (detik.com dan CNN Indonesia) ramai memberitakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6827,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,10],"tags":[],"class_list":["post-6826","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fokus","category-indonesia","has_thumb"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6826","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6826"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6826\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6828,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6826\/revisions\/6828"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6827"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6826"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6826"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6826"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}