{"id":7082,"date":"2022-09-01T16:21:38","date_gmt":"2022-09-01T16:21:38","guid":{"rendered":"http:\/\/warningtime.com\/?p=7082"},"modified":"2022-09-01T18:04:02","modified_gmt":"2022-09-01T18:04:02","slug":"pasca-sarjana-uki-yki-senior-gmki-dan-lam-horas-film-adakan-nonton-bareng-bersama-dan-dilanjutkan-diskusi-film-invisible-hopes","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/2022\/09\/01\/pasca-sarjana-uki-yki-senior-gmki-dan-lam-horas-film-adakan-nonton-bareng-bersama-dan-dilanjutkan-diskusi-film-invisible-hopes\/","title":{"rendered":"UKI, YKI, PNPS GMKI dan Lam Horas Film Kompak Nobar  dan \u00a0Diskusi \u00a0\u201cFilm Invisible Hopes&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Screenshot_20220901-231906_Gallery.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-large wp-image-7083\" src=\"http:\/\/warningtime.com\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Screenshot_20220901-231906_Gallery-1024x691.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"691\" \/><\/a>WT.Com, Jakarta &#8211;\u00a0 Pogram Pasca Sarjana UKI,\u00a0 YKI, Lam Horas Film dan PNPS GMKI menyelenggarakan acara nonton bareng \u201c<em>Film Invisible Hopes\u201d \u00a0<\/em>pemenang FFI 2021 untuk kategori \u00a0Film Dokumenter Panjang Terbaik, \u00a0di Bioskop XXI Metropole dan kemudian dilanjutkan Diskusi \u00a0di Aula Pasca Sarjana UKI, \u00a0Jakarta Pusat pada Kamis (1\/09\/2022).<\/p>\n<p>\u201cFilm Invisible Hopes\u201d besutan Lamtiar Simorangkir mengangkat kehidupan tragis tahanan perempuan hamil dan anak-anak lahir di penjara ke layar lebar. \u00a0Setting berlangsung di empat penjara perempuan, salah satu Rutan Perempan Pondok Bambu, Jakarta.<\/p>\n<p>Kisah perempuan muda tomboy bernama Midun terjerat kasus narkoba, dijatuhi vonis\u00a0 6 tahun dan denda satu miliar, ditinggalkan suami dan tragisnya melahirkan anak di sel hingga tantangan membesarkan anak. \u00a0Sangat \u00a0menarik dikisahkan di dalam film ini. Begitu juga kisah perempuan lain, seperti \u00a0IFI \u00a0terbelit kemiskinan tak ada biaya untuk operasi caesar.<\/p>\n<p>Sutradara sekaligus Produser, \u00a0Lamtiar\u00a0 Simorangkir mengungkapkan bahwa Lam Horas Film sebuah komunitas dan perkumpulan \u00a0yang mengangkat tentang persoalan masyarakat kita ke dalam Film.<\/p>\n<p>\u201cSebagai filmmaker, kami bertujuan menolong Ibu dan anak lahir dibesarkan di penjara,\u201d tuturnya sebelum pemutaran film.<\/p>\n<p>Membuat film ini, kata perempuan asal Pekanbaru ini, bukan untuk mencari kesalahan pihak tertentu, namun untuk memperbaiki kondisi terutama anak-anak di dalam penjara.<\/p>\n<p>\u201cSaat riset awal, di Penjara Semarang, kami menemui seorang ibu hamil dan terkesan LP (negara) \u00a0tidak siap menerimanya,\u201d beber aktivis perempuan dan ketika kuliah aktif di GMKI Cabang Pekanbaru ini.<\/p>\n<p>Selama berlangsungnya produksi film\u00a0 ini ada 40 ibu hamil dengan 17 kelahiran anak di penjara. \u00a0Diakuinya, ada \u00a0ruang gerak terbatas sebab ada perjanjian dengan Ibu Kalapas dan Ibu Rutan bahwa filmnya hanya \u00a0fokus untuk ibu hamil dan anak di penjara.<\/p>\n<p>\u201cLewat film kami merasa terpanggil menolong narapidana hamil dan anak-anak dilahirkan di penjara. Ingin ada perubahan di LP-LP Indonesia,\u201d tutur perempuan yang berharap lewat film bisa membawa perubahan di Indonesia.<\/p>\n<p><strong>Diskusi Film <\/strong><\/p>\n<p>Direktur Pasca Sarjana Prof. Dr. dr. Bernadetha Nadeak, M.Pd., PA dalam sambutannya sebagai pengantar diskusi mengatakan \u00a0baseline untuk UKI sendiri kegiatan nonton dan berdiskusi film ini sebagai pengabdian terhadap masyarakat, sebagai salah satu perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi.<\/p>\n<p>\u201cTerimakasih untuk program magister hukum UKI yang sudah mengadakan acara ini. Biar hal seperti ini diitindaklanjuti \u00a0ke depan, dengan melibatkan program magister lainnya. Tentu dengan arahan Rektor dan Warektor Bidang Akademik UKI. \u00a0Ini bisa \u00a0ladang kajian buat dosen,\u201d tutur Prof. Bernadetha.<\/p>\n<p>Tampil sebagai pembahas dalam Diskusi yang berlangsung di Aula Pasca Sarjana Kampus UKI Diponegoro antara lain Lamtiar Simorangkir Dr. Aartje Tehupeiory, S.H.,M.H., CIQAR.,CIGNR, Pdt Sylviana Apituly dan Dr. Bernard Nainggolan.<\/p>\n<p>Menurut pandangan Dr. Aartje Tehupeiory, S.H.,M.H., CIQAR.,CIGNR setelah menonton film ada tiga kebutuhan dasar perempuan yaitu kebutuhan fisik, psikis dan kebutuhan rohani.<\/p>\n<p>Film ini menceritakan \u00a0kisah \u00a0hidup perempuan bagaimana melahirkan anak di penjara dengan segala penderitaannya.<\/p>\n<p>\u201cKita harapkan Pak Jokowi bisa fokus untuk mengurus rakyat termasuk mendesak menambah anggaran lapas perempuan. Mohon memisahkan ibu hamil dan anak di dalam rutan,\u201d tukas Dosen Program Pasca Sarjana UKI ini.<\/p>\n<p>Ia menyinggung regulasi yang ada sudah ada di atur dalam UU No 4 1979 tentang \u00a0Kesejahteraan perempuan. Kemudian \u00a0UU No 17 tahun 2016 tentang Perubahan Perlindungan Anak dan\u00a0 UU No 32 tentang Tata Cara Warga Binaan masyarakat.<\/p>\n<p>Bahkan, secara internasional \u00a0ada Mandela Role. Di sana \u00a0diatur perempuan punya hak \u00a0akomodasi setelah melahirkan. Hak perempuan adalah hak azasi, sesuai UU 39 memiliki hak \u00a0memperoleh kesejahteraan, hak pemeliharaan dan hak untuk dibimbing, baik dalam kandungan dan saat dilahirkan.<\/p>\n<p>\u201cMari Yuk sama-sama \u00a0inisiasi gerakan untuk perlindungan \u00a0perempuan dan anak,\u00a0 \u00a0ini harus \u00a0terus disosialisasikan. Jangan sampai kehilangan pengasuhan dan hak hidup,\u201d ajaknya.<\/p>\n<p>Sementara Pdt. Sylviana Apituly \u00a0berpendapat bahwa tidak salah kalau \u00a0FFI \u00a0memberikan penghargaan \u00a0sebagai film dokumenter panjang terbaik. Film ini berhasil menegaskan ke publik masalah perempuan dan anak adalah puncak gunung es yang terjadi di Lapas.<\/p>\n<p>\u201cSaling mengunci karena ada faktor gender, kelas sosial dan lainnya. Dalam analasis kelompok pemerhati masalah perempuan di tahanan adalah sebuah mata rantai terkait tiga hal yaitu kemiskinan, ketergantungan dan kekerasan,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Dari segi pendalaman masalah perempuan ada beberapa masalah tadi ditemukan dalam \u00a0film ini. \u00a0Umumnya perempuan ditinggalkan suaminya dan keluarga tidak mau mengurus anak. Karena itu sangat \u00a0rentan anak dilahirkan di rutan berpotensi diabaikan baik lingkungan dan keluarga.<\/p>\n<p>Menurutnya, secara teologis penggambaran hidup anak di penjara bukan segambar dengan Allah, \u00a0anak lahir di penjara terlihat berbeda.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ia juga menyinggung \u00a0\u00a0Pasal \u00a01 Deklarasi HAM yang menjamin setidak \u00a030 hak anak. Seperti hak identitas, perlindungan khusus dan lainnya. Gambaran kisah Ibu Midun, IFI\u00a0 dan perempuan lainnya merupakan cerminan perempuan yang mendekam di penjara kita.<\/p>\n<p>Ketua umum \u00a0Yayasan Komunikasi Indonesia (YKI) berpandangan bahw \u00a0film ini tidak biasa-biasa saja. Menonton film ini sama seperti menonton diri sendiri. Terutama kaitannya dengan pengarusutamaan gender dan perlindungan anak.<\/p>\n<p>\u201cSaya kira kita bukan lagi bicara \u00a0law of book tapi law in action. Secara teoritas bagimana UKI \u00a0bisa bicara gerakan hukum terkait bias gender \u00a0yang \u00a0kita konkritkan hari ini,\u201d tanggapnya.<\/p>\n<p>YKI bergerak dalam gerakan politik, bahwa hasil kerja Lamtiar Simorangkir tidak cukup hanya tontonan tetapi harus berbuat sesuatu terkait ibu hamil dan anak di penjara. \u00a0Maka gerakan-gerakan \u00a0politik akan \u00a0kita lakukan di YKI.<\/p>\n<p>\u201cHukum tidak hadir di ruang hampa, membicarakan ibu dan anak di penjara, itu bagian perjuangan. Lewat film ini kita seharusnya nonton diri sendiri,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WT.Com, Jakarta &#8211;\u00a0 Pogram Pasca Sarjana UKI,\u00a0 YKI, Lam Horas Film dan PNPS GMKI menyelenggarakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,10],"tags":[],"class_list":["post-7082","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-fokus","category-indonesia","has_no_thumb"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7082","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7082"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7082\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7092,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7082\/revisions\/7092"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7082"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7082"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/warningtime.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7082"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}