Dibawah Kepemimpinan Maruarar Sirait PIKI Sedang Bergerak Menuju Zaman Keemasan
Jakarta Warningtime.com – Benar-benar kejutan yang berakhir manis! PIKI Award 2026 ditayangkan di Metro TV, Minggu 25/10 berlangsung sukses. Meski awalnya panitia was-was karena faktor perdana digelar dan ditambah baru pertama mengurus program siaran langsung di jam prime time di televisi. Tak heran, sesaat setelah siaran langsung berakhir, secara spontan anak-anak PIKI Choir meneriakkan bersama-sama nama “Ara” sembari mengerubungi Ketum DPP PIKI ini. Ara dengan simpati dan dengan senyum ramah menyalami mereka satu-satu sembari berterima kasih.
“Makasih ya Dek, sudah bekerja keras selama berupa bulan ini latihan. Penampilannya bagus ya,” ujarnya sembari mengangkat jempol. Urusan menyemangati tim yang juga bawahannya, Ara memang ahlinya. Dia selalu menekankan spirit bahwa Kader PIKI harus tampil luar biasa tidak boleh biasa-biasa.
Terbukti dalam menggelar PIKI Award 2026, semua urusan dikerjakan pengurus PIKI. Ara selalu mengatakan dalam setiap rapat, bahwa dirinya bisa saja dan mampu membayar orang profesional mengerjakan segala keperluan siaran langsung di televisi. Tetapi itu tidak dilakukan, agar pengurus-pengurus PIKI menjadi orang luar biasa dan bisa tampil dengan baik.
Bermodal dengan pesan Ketum tersebut, semua bidang acara memang dikerjakan orang-orang PIKI. Dari MC, klip video, schrift, penyanyi, live online di berbagai daerah, urusan makan 450 orang dan lainnya semua dikerjakan sendiri. Sampai pemberi penghargaan semua melibatkan tokoh-tokoh senior PIKI dan pengurus DPP PIKI.
Dibalik persiapan panitia banyak kisah kerja keras. Ketua Panitia Prof Binsar Pakpahan tak lelah memimpin rapat sampai larut malam bahkan hingga pagi, demi menyukseskan PIKI Award 2026. Di bawah arahan Ketua Umum PIKI semua bidang harus melakukan yang terbaik dan maksimal. Dibalik kesibukan pekerjaan masing-masing panitia menyediakan waku untuk berkumpul di DPP PIKI dan kerap juga di STFT Jakarta.
Tengoklah yang hadir malam itu, diantara 450 orang memadati Grand Studio Metro, tampak Jenderal Richard Tampubolon, Ribka Haluk, Prof. Dr. Benjamin Oktavianus, Prof. Bungaran Saragih, Yulius Silvanus, Rektor UKI, Rektor UKSW, Pdt. Gilbert Lumoindong dan masih banyak deretan tokoh penting lainnya. Mereka hadir sebagai pengurus PIKI.
Lompatan Besar PIKI
Tidak bermaksud glorifikasi Ketua Umum PIKI sekarang. Lima bulan kurang lebih menjabat, Maruarar Sirait membuat gebrakan sebagai lompatan besar dalam program prioritas PIKI. Meski baru seumur jagung memimpin organisasi cendekiawan pertama di Indonesia pasca kemerdekaan, PIKI kini terus bergeliat. Fakta, terlihat jelas perubahan yang besar. Utamanya, gerak cepat membuat program kerja yang berkelas dan berbobot, bahkan rekomendasi diterima langsung sama pemerintah.
Barangkali PIKI sudah kembali ke khitohnya sebagai organisasi pemikir intelektual, karena mampu mempersembahkan pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang digunakan pemerintah sebagai pijakan dalam mengambil keputusan oleh pemerintah. Peran itu memang panggilan PIKI sejak berdiri.
Bukan rahasia lagi selama ini, PIKI seolah lama tertidur. Karena beberapa periode kepengurusan, hampir tak terlihat sumbangsih pikiran maupun gagasan ke pemerintah. Mungkin saja ada tetapi memang tidak pernah terpublikasikan. PIKI sekedar ada dan bertahan, melalui suksesi rutin. Minim program dan minim merekomendasikan pemikiran-pemikiran ke pemerintah.
Kalau soal konsilidasi dan rekrutmen organisasi jangan tanya, Ara memang jagonya. PIKI sekarang benar-benar dapat menghimpun para cendekiawan, dari kalangan kampus, birokrat, profesional, TNI-Polri, Kepala Daerah, pengusaha dan berbagai profesi lainnya berhasil diajak bergabung menjadi pengurus PIKI.
Bahkan, banyak orang menjadi pengurus PIKI dan memasukkan resume, belum tertampung dengan baik. PIKI sekarang ibarat Magnet yang sebagian besar orang bahkan ingin bergabung. Apakah ini tanda-tanda keemasan PIKI di bawah Maruarar Sirait? Tentu sang waktu mejawabnya. Paling tidak jalan ke sana terbuka lebar. Berani menyelenggarakan acara-acara besar, modal awal menuju ke sana.
Penerima PIKI Award 2026
Malam penganugerahan PIKI Award 2026 tidak sekadar merayakan penghargaan tetapi juga menghadirkan keteladanan, integritas, dan pengabdian bagi bangsa. Penghargaan diberikan dalam delapan kategori, yakni Toleransi, Lingkungan, Ekonomi, Antikorupsi, Pendidikan, Kesehatan, Inovasi, dan Budaya, serta dua apresiasi khusus bagi pihak yang dinilai telah memberikan kontribusi dan bermanfaat bagi masyarakat.
Seperti diketahui penjaringan dan penjurian PIKI Award 2026 dilakukan secara terbuka melalui jejaring PIKI, bekerja sama dengan lembaga survei independen Indikator.
“Proses penjurian ini melibatkan lebih dari 30 juri untuk setiap kategori. Para juri adalah tokoh-tokoh yang kredibel dan berkompeten di bidangnya masing-masing. Penilaian didasarkan pada empat dimensi: Integritas, Inovasi, Berdampak, dan Keberlanjutan, melalui proses yang objektif, transparan, dan akuntabel,” tegas Kennedy Lim yang juga Wakil Ketua Umum DPP PIKI.
Delapan Kategori antara lain Tokoh Toleransi diraih Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag. Sahabatnya Pdt. Dr. (HC) Jacky Manuputty menyerahkan plakat. Penghargaan ini mengapresiasi kerja keberagaman di Maluku, wilayah yang pernah dilanda konflik dan kini tumbuh sebagai laboratorium kerukunan bagi Indonesia dan dunia.
Dilanjutkan Tokoh Riset dan Inovasi diraih Prof. (H.C.) Dr. Carina Citra Dewi Joe, B.Sc., M.Sc., Ph.D. Plakat diserahkan Prof. Dr. Bungaran Saragih. Carina dikenal luas berperan penting dalam pengembangan teknologi massal vaksin Covid-19 Astra Zaneca.
Sementara Tokoh Kesehatan jatuh pada Dr. dr. Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D., Sp.B., Sp.BTKV. Giliran Prof. Dr. Benjamin Octavianus berkenan memberikan plakat. Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) sejak 2009, merintis rumah sakit apung swasta pertama di Indonesia sejak 2013, dan mengembangkan program Dokter Terbang.
Untuk Tokoh Kebudayaan diraih Dr. Bambang Noorsena, S.H., B.A., M.H., secara khusus diberikan plakat oleh Ribka Haluk selaku Wakil Ketua Umum DPP PIKI. Noorsena dipilih atas kajian dan pengabdiannya menggali kekayaan warisan iman dan tradisi lintas bangsa.
Sementara Tokoh Lingkungan Hidup jatuh pada Saptoyo. Pria sederhana ini adalah penggerak konservasi pesisir Sendangbiru. Hening Parlan berkenan menyerahkan plakat. Sejak 1998, Saptoyo memadukan konservasi mangrove, perlindungan terumbu karang dan pemberdayaan masyarakat.
Selanjutnya Tokoh Pemberdayaan UMKM (Ekonomi) diberikan kepada Gusti Ngurah Anom (Ajik Krisna). Pengusaha Jahja Setiatmadja tampil memberikan plakat. Ajik Krisna dinilai sukses atas usahanya di Bali yang memberi ruang bagi produk UMKM lokal. Tokoh Pendidikan diraih Saur Marlina Manurung (Butet Manurung) Wakil Ketua Umum DPP PIKI Prof. Angel Damayanti, Ph.D menyerahkan plakat. Butet sukses mendirikan Sokola Rimba di Jambi yang mendampingi masyarakat adat melalui pendidikan kontekstual.
Tokoh Anti-Korupsi jatuh pada alm Prof. Dr. Artidjo Alkostar. Prof. Dr. Yeheskiel Minggus Tiranda bertugas menyerahkan plakat kepada Sri Widyaningsih istri mendiang Artidjo. Artidjo layak menerima karena dikenal tegas memvonis berat para koruptor.
Di samping 8 kategori itu, PIKI juga secara khusus menambahkan dua apresiasi, penerimanya Lembaga Filantrop dan Gugun Gumilar, Ph.D. Baktinendra Prawiro menyampaikan penghargaan Yayasan Buddha Tzu Chi, atas kerja kemanusiaan lintas suku, agama, dan golongan.
Sedangkan Pdt. Prof. Benyamin Intan menyerahkan Penggiat Kebebasan Beribadah kepada Gugun Gumilar, Ph.D. Gugun terpilih atas konsistensinya menegaskan jaminan konstitusi dan kebebasan beragama serta kehadirannya secara langsung di tengah masyarakat yang multikultural.
PIKI AWARD Jadi Momentum
Ketua Umum DPP PIKI Maruarar Sirait menegaskan bahwa PIKI Award 2026 merupakan momentum untuk menengok kembali apa yang sudah dilakukan pengurus DPP PIKI selama 5 bulan sejak dilantik.
“Ini tentu jadi momentum bahwa apa yang kita kerjakan selama 5 bulan ini, bagaimana kita bisa berdiri di atas kekuatan sendiri, di kaki sendiri dengan mengandalkan Tuhan Yesus. Itu spirit yang kita bangun. Kita dididik Tuhan jadi kepala bukan ekor, baik kepala dalam iman, dalam pekerjaan dan apapun itu,” ujar Ketua Umum DPP PIKI Maruarar Sirait.
Ia menjelaskan PIKI telah melakukan berbagai kegiatan antara lain Seminar Nasional Kesehatan di Bandung, Seminar Nasional Dana Bagi Hasil di Tentena, Poso. Simposium Energi Nasional di UPH Karawaci, Banten, Seminar Nasional Hukum di Balai Kartini, Jakarta serta berbagai FGD terkait dengan isu-isu serta tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia.
PIKI juga memberikan bantuan kemanusiaan saat bencana banjir di Sumatera Utara dan wilayah terdampak lainnya serta menyampaikan bantuan saat gempa Bumi di Flores, Karhutla di Palangka Raya dan Pontianak.
Istimewanya ada dua rekomendasi PIKI yang diterima dan direspon baik oleh pemerintah serta akan menjadi pijakan dalam menyiapkan berbagai program/kebijakan bagi kemajuan bangsa. Diantaranya dari dari Simposium Nasional Energi terkait dengan mendorong pembangunan PLTN dan pengutamaan penyediaan listrik di daerah 3T langsung diterima Menko Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri ESDM Bahlil Lahadalia serta mengajak PIKI bekerjasama dalam kolaborasi kerja program hilirisasi.
Demikian juga rekomendasi PIKI dalam Seminar Nasional Hukum yang diterima secara langsung oleh Jaksa Agung ST Burhanuddin, diantaranya terkait mekanisme kepailitan untuk penyelesaian kolektif korban tindak pidana.
“Dua bulan ke depan Pak Barita Simanjuntak akan menyiapkan DPD di berbagai daerah di Indonesia. Kita melakukan dengan gotong royong. Karena organisasi sehat mempunyai visi misi yang benar. Saya ingin PIKI mencapai keemasan dalam 5 tahun ke depan. Ukurannya dapat dipercaya, berdampak, bicara dan bisa melahirkan SDM yang berkualitas,” ujarnya sembari menambahkan tahun 2027 PIKI berharap sudah punya DPD di semua provinsi.
Berulangkali Ara menegaskan, melalui PIKI ingin melahirkan tokoh-tokoh seperti Leimena, TB Simatupung, Radius Prawiro, TSG Gunung Mulia, Sabam Sirait, Peter Sumbung dan tokoh-tokoh lainnya. “Perjuangan kita bukan hanya untuk umat Kristen tetapi juga untuk semua masyarakat,” tandasnya.
Sejalan dengan semangat Ad Caritas Et Veritas (Demi Kasih dan Kebenaran) PIKI ingin menegaskan bahwa kasih dan kebenaran harus berjalan beriringan dalam melayani bangsa. Kerja-kerja kemanusiaan sering dijalani dalam kesunyian, namun dampaknya dirasakan lintas generasi. PIKI berharap keteladanan para penerima penghargaan semakin menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya bagi bangsa.
Sekelumit Tentang PIKI
Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) adalah organisasi kemasyarakatan berbasis Kristiani yang didirikan pada 19 Desember 1963 di Jakarta. Organisasi ini lahir dari pergumulan para cendekiawan Kristen dalam menyikapi dinamika kebangsaan di negara yang baru merdeka. Pendirian PIKI dideklarasikan di sekretariat Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, oleh sejumlah tokoh intelektual dan nasionalis Kristen, di antaranya Johannes Leimena, Todung Sutan Gunung Mulia, Manasse Malo, Pontas Nasution, Radius Prawiro, Sabam Sirait, dan Peter Sumbung.
Setelah menggelar kongres pertama pada Agustus 1965, PIKI sempat mengalami masa surut seiring perubahan situasi politik nasional, lalu dibangkitkan kembali pada Juni 1987 untuk menjawab tantangan zaman dan pembangunan nasional. PIKI juga tercatat sebagai pelopor berdirinya sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Kristen Maranatha di Bandung dan Universitas Kristen Indonesia Paulus di Makassar.
Hingga kini, PIKI berperan menghimpun pemikiran, penelitian, dan kontribusi nyata kaum intelektual Kristen di berbagai bidang, serta menjadi jembatan antara gereja, dunia akademik, dan masyarakat dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila. PIKI sekarang dipimpin oleh Ketua Umum Maruarar Sirait, S.IP dan Sekretaris Umum Drs. Benyamin Patondok, M.M







Leave a Reply